Nelayan Tradisional Sengsara, Akibat Bentuk Kegiatan Reklamasi Di Batam

DNO (detiknewsocean.com), Batam ~ Kegiatan aktivitas reklamasi pantai yang dilakukan para perusahaan pengembang daerah kawasan di Batam, sangat berdampak pada kerusakan lingkungan, ekosistem laut dan pada kelansungan hidup para Nelayan, yang mana membuat ruang gerak kegiatan para Nelayan menjadi terbatas.

Keseimbangan ekosistem dan kualitas laut tempat hidup beragam spesies ikan dan jenis hewan laut lainnya kian terusik oleh timbunan tanah, yang menjadi tempat bergantung bagi para nelayan, tentunya ikut berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan yang sangat berkurang drastis.

Sejatinya reklamasi adalah sebuah proses untuk memberdayakan kawasan yang sebelumnya tidak berguna untuk kemudian dijadikan kawasan yang produktif. Apa yang terlihat di kawasan Batam Centre Batam, nampaknya sedikit banyak menyalahi arti dari reklamasi itu sendiri.

Di kawasan Batam Centre nampak jelas bahwa penimbunan tanah sudah jauh meninggalkan garis pantai, yang artinya penimbunan tanah dilakukan di daerah yang sebenarnya produktif bagi mereka yang berprofesi sebagai nelayan.

Kondisi ini membuat nelayan harus berjuang ekstra keras demi tetap tercukupinya kebutuhan sehari-hari.
Nelayan Tradisional Sengsara, Akibat Bentuk Kegiatan Reklamasi Di Batam
 Bentuk Kegiatan Reklamasi Di Batam Centre, Rabu (24/08/2016,detiknewsocean.com)
Pak Abi, salah seorang nelayan Kawasan Batam Centre menerangkan “kerusakan lingkungan yang diakibatkan reklamasi pantai merupakan penyebab menurunnya pendapatan nelayan. Akibatnya, kami saat ini sebagian nelayan telah banyak berganti profesi menjadi kuli bangunan, mencari barang bekas dan ada penebang pohon kayu” Rabu (24/08/2016) .

“Dia mengatakan penghasilan menangkap hasil laut sudah tidak bisa diharapkan lagi karena beberapa lokasi terumbu karang maupun bakau tempat biota laut mencari mangkanan sudah rusak parah akibat ditimbun pihak perusahaan”, ujarnya.

Hasil Pantauan DNO, terlepas dari bagaimana kondisi perairan yang berada di kawasan tersebut, proses reklamasi di kawasan ini telah banyak memakan daerah yang pada dasarnya berguna berguna bagi kehidupan, walaupun dengan alasan untuk menambah daya guna sebuah kawasan menjadi lebih bernilai.

Tampak perahu nelayan yang terikat di kawasan laut ini sepertinya tidak lagi mendapat tempat untuk melakukan penangkapan ikan atau tidak dapat beroperasi.

Kondisi terkini kembali membawa para nelayan kepada masa-masa menghkawatirkan, bukan hanya akan kesulitan memperoleh hasil laut, nelayan juga harus siap dengan ancaman tidak bisa melaut karena keadaan laut yang sudah tidak memungkinkan.(L.Art)

Subscribe to receive free email updates: