Pemerintah Menghitung Susun Skenario Penurunan Harga Gas Untuk Setiap Industri

Detiknewsocean.com, Jakarta – Pemerintah RI sedang mengkaji untuk melakukan penurunan harga gas Industri di dalam negeri. Harga gas saat ini masih dianggap kemahalan mengingat Indonesia sebagai negara produsen penghasil yang mengekspor gas ke banyak negara, seperti Singapura, China dan lainnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sedang menyiapkan beberapa opsi penurunan harga gas bumi untuk industri. Skenario ini sebagai pertimbangan untuk memutuskan harga gas.

Harga gas industri di Indonesia yang saat ini mencapai US$ 8 Million Metric British Thermal Unit (MMbtu). Harga tersebut jauh lebih mahal dibanding Singapura yang hanya berada di kisaran USD 4 per MMbtu.

Dalam catatan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiata Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk harga gas industri di wilayah Jawa Timur sebesar US$ 8,01 sampai US$8,05 per MMbtu. Kemudian harga gas Jawa Barat dengan harga US$9,14 hingga US$9,18 per MMbtu. Bahkan dapat naik tinggi yakni, US$13,9 sampai US$13,94 per MMbtu untuk harga gas di Sumatera Utara.
Pemerintah Menghitung Susun Skenario Penurunan Harga Gas Untuk Setiap Industri
Pemerintah Menghitung Susun Skenario Penurunan Harga Gas Untuk Setiap Industri
Selisih harga yang mencapai 2 kali lipat bahkan lebih tersebut dikeluhkan oleh para pelaku industri. Sebab, sebagai negara yang mengekspor sebagian hasil gasnya ke Singapura, Indonesia tidak seharusnya memberi tarif dalam negeri yang jauh lebih mahal.

Tidak hanya Singapura, negara tetangga lainnya seperti Malaysia hanya menjual harga gas untuk industri sebesar US$ 4,47 per MMbtu, Filipina US$ 5,43 per MMbtu dan Vietnam US$ 7,5 per MMbtu. Beberapa negara lainnya seperti Korea, Jepang, termasuk di China juga harga gas industri mereka rata-rata US$4 per MMbtu padahal gas di China impor dari Tangguh (Blok Tangguh), Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan banyak efek ganda (multiplier effect) ‎yang bisa diperoleh dengan menurunkan harga gas industri. Meski, penurunan harga gas akan berakibat pada potensi penerimaan negara.

Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan “35 persen dari hasil penjualan gas masuk ke dalam penerimaan negara. Untuk itu akan ada simulasi mengenai seberapa besar dampak pengurangan harga gas ke penerimaan negara”.

‎”Jika harga gas industri bisa diturunkan, maka akan ada multiplier effect hingga 10 kali lipat akibat menggeliatkan sektor industri lantaran adanya penurunan biaya energi. Namun hal ini masih perhitungan dari Kementerian Perindustrian, dan juga menunggu perhitungan Kementerian Keuangan untuk masalah pengurangan penerimaanya”.

"Harga gas dalam sisi hulu semestinya masih dapat ditekan ,sebab ada beberapa biaya yang dapat dipangkas ," kata Luhut di Gedung DPR RI, di Jakarta, Rabu (14/9).

Luhut menjelaskan, “sebenarnya harga gas bisa diturunkan hingga US$ 4 per MMbtu. Dengan asumsi seluruh gas yang dihasilkan akan dikonsumsi di dalam negeri dan tidak perlu lagi diekspor sehingga harga seharusnya turun”.

Bahkan menurut Luhut, harga gas ini sebenarnya bisa ditekan hingga ke angka US$ 2 per MMBTU, jika pemerintah mengambilalih jalur distribusi gas antara hulu dengan pelanggan akhir ditambah dengan pemangkasan beberapa biaya yang ada.

Selain itu dia mengungkapkan, harga gas industri dapat ditekan hingga US$ 2 per MMBTU mengingat gas yang diambil adalah gas bagian pemerintah dan bukan bagian dari Kontraktor Kontrak Kerjasama ( KKKS).

"Untuk harga yang rendah juga tidak mempengaruhi minat investor migas untuk masuk ke Indonesia, kami hanya melihat cost apa saja yang bisa ditekan supaya bisa menghasilkan harga gas murah, karena kalau cost rendah , bahkan kita bisa tekan cost recovery ,karena cost recovery Indonesia telah terlalu besar," ujarnya.

Dia menegaskan, jika pemerintah dapat saja mengambil alih jalur distribusi gas antara hulu dengan pelanggan akhir sehingga toll fee distribusi gas dapat berkurang dengan signifikan.

Dia menambahkan jika upaya tersebut semestinya bisa membuat harga gas di hulu dapat mencapai US$ 4 per MMBTU dan US$5 per MMBTU di sisi hilir. Tetapi toll fee gas dapat dipatok sebesar US$ 1 per MMBTU .

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap dengan skenario yang digodok dapat membuat penurunan harga gas industri memberikan efek ganda. Dampaknya, akan menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja.

Di sisi lain, pemerintah juga mengkaji ulang biaya-biaya industri hulu minyak dan gas bumi (migas) yang bisa membuat harga gas bisa turun. Dalam 10 hari ke depan SKK Migas akan menyelesaikan kajian ini. “Kami coba detail satu per satu. Ini arahan pimpinan,” kata Wakil Kepala SKK Migas, M.I.Zikrullah usai rapat koordinasi, Senin, 29 Agustus 2016. (GA)

Subscribe to receive free email updates: