Ungkap Pemilik Mobil Bodong (Ilegal) Asal Singapura Polda Kepri Lakukan Koordinasi Dengan BC Batam

Detiknewsocean.com, Batam ~ Pengungkapan kasus penyelundupan empat unit mobil bodong (ilegal) berasal dari Singapura yang dihentikan Tim Patroli Sea Rider KP Bisma 801 pada hari Sabtu, 17-09-2016 Pukul 08.00 di perairan Sagulung, Batam masih terus bergulir. Polisi Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) akan melakukan kordinasi dengan Bea dan Cukai (BC) Batam untuk mengungkap pengusaha atau pemesan mobil tersebut.

"Kami akan koordinasi dengan BC untuk mengungkap pemesan maupun pemilik mobil tersebut. Bisa jadi pesanan perorangan, termasuk pengusaha di Batam," kata Kapolda Kepri, Brigjen Pol Drs. Sam Budigusdian, MH, usai mengikuti sosialisasi Safty Reading yang digelar Kakorlantas Mabes Polri dan Polda Kepri di Politeknik Batam, Selasa (20/9).

Budigusdian mengatakan “kasus penyelundupan mobil ilegal itu telah dilimpahkan ke BC karena itu pelanggaran cukai (kepabeanan). Meski demikian pihaknya tetap akan melakukan koordinasi untuk mengungkap pemilik mobil itu”.

"Empat mobil masih didalami dan dilimpahkan ke Bea Cukai, karena itu pelanggar cukai (kepabeanan-red),"ujarnya. Kata Kapolda berdasarkan hasil penyelidikan sementara petugas Bea Cukai, bahwa telah mendapati pihak ekspedisi yang memesan mobil-mobil bodong tersebut.
 Ungkap Pemilik Mobil Bodong (Ilegal) Asal Singapura Polda Kepri Lakukan Koordinasi Dengan BC Batam
Kapolda Kepri Brigjen Pol Drs. Sam Budigusdian, MH
"Dari expedisi memesan ke Nakhoda. Sekarang lagi diperiksa exspedisinya," tutur Sam. Terkait maraknya penyelundupan barang ilegal, Kapolda berjanji akan memperketat pengawasan di jalur laut. Termasuk berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Bea Cukai dan TNI Angkatan Laut.

Sementara itu, Kasi Penindakan dan Penyidikan (P2) KPU Bea dan Cukai Tipe B Batam, Nurhayen, mengatakan pihaknya akan melanjutkan penyelidikan terhadap tangkapan tersebut. "Nantinya kami akan menunggu instruksi Menteri Keuangan apakah akan dilelang atau dimusnahkan," ujarnya.

Pantauan DNO, bahwa alasan Nakhoda Zulkarnain Bin M. Yusuf melakukan Penyelundupan dengan menggunakan KM Sea Master Three GT 32 No 311 PPO adalah karena sangat menggiurkan dan dapat mengantongi komisi sebesar Rp. 20 juta sekali dalam perjalanan.

Adapun empat mobil bodong bekas asal Singapura terdiri dari 1 unit Mercedes Benz jenis sedan warna hitam , 1 unit Mini Cooper warna silver, 1 honda Oddyssey jenis MPV warna abu abu, 1 unit Honda sedan warna silver.

Pemasukan mobil mewah Bodong ilegal ke Batam disinyalir melibatkan sindikat internasional dan berkonspirasi dengan ‘oknum-oknum’ pengusaha di Batam. Modus yang digunakan hingga mobil-mobil itu bisa masuk ke Batam dan bahkan memiliki dokumen adalah dengan memundurkan tahun pembuatan dan pemasukan ke Batam. Mobil buatan tahun 2005 misalnya, dalam dokumen dibuat diproduksi tahun 2002 dan dimasukkan ke Batam setahun kemudian.

Sejak pemberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), terhitung sejak 1 Januari 2004 di Kawasan Berikat Daerah Industri Batam, mobil yang bisa dimasukkan ke Batam harus baru (brand new). Mobil yang masuk juga harus membayar PPN dan PPnBM sebesar 180 persen dari harga jual mobil. Lalu, nomor polisi mobil-mobil itu tidak lagi memakai seri 'X' seperti mobil rekon yang masuk sebelum PP 63 berlaku.
 Ungkap Pemilik Mobil Bodong (Ilegal) Asal Singapura Polda Kepri Lakukan Koordinasi Dengan BC Batam
Empat unit mobil bodong bekas asal Singapura terdiri dari 1 unit Mercedes Benz jenis sedan warna hitam , 1 unit Mini Cooper warna silver, 1 honda Oddyssey jenis MPV warna abu abu, 1 unit Honda sedan warna silver.
Pada Pasal 4 ayat (1) PP No 63 Tahun 2003 Tentang Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) tersebut, disebutkan :

Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat 1 dilakukan ketentuan sebagai berikut :

1. Untuk tahap pertama, terhitung mulai 1 Januari 2004, Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah dikenakan atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak berupa :
a. Kendaraan Bermotor, berupa segala jenis kendaraan bermotor baik beroda 2 (dua) atau lebih;
b. Rokok dan hasil tembakau lainnya; dan
c. Minuman yang beralkohol.

Jadi, bukan hanya PPN dan PPnBM yang tidak dibayarkan, dalam hal ini negara juga dirugikan karena pajak mobil-mobil mewah ini menjadi lebih murah dari seharusnya. Sebab, pajak mobil ikut ditentukan oleh tahun produksi, disamping kapasitas isi silinder (cc)-nya. Makin tinggi tahun produksi dan cc sebuah mobil makin besar pajak yang harus dibayarkan pemiliknya. (***)

Subscribe to receive free email updates: