Pemilik Kapal Pukat Trawl Bakal Kena Jerat Hukum; Atas Adanya Larangan Beroperasi

Detiknewsocean.com, Labuhanbatu ~ Pemilik kapal penangkap ikan jenis Pukat Trawl mini yang selama ini sempat beroperasi bisa kena jerat hukum. Pasalnya, sudah ada pelarangan serta peraturan perundangan yang menyebutkan bahwa kapal penangkap ikan tersebut dilarang menggunakan untuk menangkap ikan.

Hal itu dikatakan oleh Praktisi Hukum Haris Nixon Tambunan yang dimintai pendapatnya diruang kerjanya di Rantauprapat, terjadinya pembakaran pukat trawl di sekitar wilayah hukum polres labuhanbatu kemaren, tidak terlepas dari rasa kesal nelayan tradisional terhadap pemilik kapal pukat trawl yang beroperasi tanpa ijin dan melanggar Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 02 Tahun 2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Saine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI).

Dijelaskannya, “kalau merujuk kepada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 02 Tahun 2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Saine Nets), maka pemilik kapal pukat trawl yang sempat beroperasi dapat diberikan sanski hukum. Karena tidak tertutup kemungkinan secara sembunyi sembunyi akan kembali beroperasi”. Rabu (12/10/2016).
Pemilik Kapal Pukat Trawl Bakal Kena Jerat Hukum; Atas Adanya Larangan Beroperasi
Alat Tangkap Ikan Pukat Trawl Mini, Beroperasi Di Sei Berombang. Detiknewsocean.com
“Guna efek jera, pemilik kapal pukat trawl yang sempat melaut, sebaiknya dikenakan sanski hukum. Karena diduga telah melakukan kegiatan ilegal fishing” kata Haris. (Berita sebelumnya : Puluhan Pukat Trawl Mini Beroperasi Di Sei Berombang, Labuhanbatu)

Sebelumnya, Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie SIK, MH melalui Kasat Reskrim AKP Muhammad Firdaus, SIK. diruang kerjanya, menyebutkan, kalau melihat dari surat edaran yang jauh hari dikeluarkan oleh Kasat Pol Air yang ditanda tangani oleh AKP Suwito, SH tertanggal 29 september 2016 tidak tertutup kemungkinan akan kena jerat hukum.

"Kita masih mendalami yang saat ini, belum ada mengarah kesitu, namun kemungkinan bisa saja. Mengingat, didalam surat edaran tersebut, dijelaskan adanya himbauan serta larangan nelayan untuk melaut sesuai undang-undang sehingga merusak sumber daya perikanan” kata Firdaus diruang kerjanya. Selasa (11/10).

20 Nelayan Dijadikan Tersangka Atas Adanya Aksi Pembakaran

Pemilik Kapal Pukat Trawl Bakal Kena Jerat Hukum ?
Situasi Saat Tiga Kapal Pukat Trawl (Harimau) Dibakar Massa Nelayan Tradisional. Detiknewsocean.com
Menindaklanjuti terjadinya pembakaran sebanyak 3 unit kapal pukat Trawl tarik dua di Perairan laut Desa Simandulang Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten Labuhanbatu Utara pada Minggu (9/10) sekira pukul 10.00 Wib kemarin. Akibatnya, sebanyak 20 orang nelayan ditetapkan sebagai tersangka, 3 diantaranya merupakan tersangka ilegal fishing, disinyalir bakal ada tersangka lain (Berita terkait : Tiga Kapal Pukat Trawl Mini Dibakar Nelayan Tradisional, Di Perairan Labuhanbatu).

Saat ini, Polres Labuhanbatu batu telah menetapkan 20 nelayan jadi tersangka, 3 diantaranya merupakan tersangka pelaku ilegal fishing. 

"11 orang ditetapkan sebagai tersangka membakar 2 unit kapal pukat penjaring, dan sebanyak 6 orang sebagai tersangka pembakar kapal pelangsir serta 3 lainnya sebagai pelaku ilegal fishing" kata Kapolres Labuhanbatu AKBP Teguh Yuswardhie SIK, MH didampingi\ Kasubdithum Polair Poldasu AKBP Darwin Nasution dan Kasat Reskrin AKP Muhammad Firdaus SIK. Senin (10/10).

“Dari aksi pembakaran itu, 20 pelaku dijerat melanggar Pasal 85 UU Tahun 45 Tentang Perikanan dengan ancaman penjara selama 5 Tahun. Seluruhnya disangkakan melanggar Pasal 85 Tahun 45 tentang perikanan" tegas Kapolres.

“Ke 20 tersangka tersebut dibagi tiga kelompok , untuk kelompok pertama pembakar 2 kapal pukat penjaring yakni, Jaharuddin Sagala, Antoni Margolang, Jafaruddin, Asri Dalimunthe, Hendra Hanafi, Madar Marpaung, Kamaruddin Munthe, Eka Suriadi, Nurdin Sitorus, Rustam Harahap dan Agus Salim”. Ungkap Teguh

“Sedangkan 6 tersangka pembakar kapal pelangsir yakni, Abdul Rasyid, Johan Wahyudi Silalahi, Juhari, Irfan Efendi, Kamaruzzaman dan Aan Siswandi”, dijelaskan Teguh kepada awak media DNO.

Untuk pemilik kapal serta tekong ditetapkan sebagai pelaku Ilegal Fishing yakni, Abeng (pemilik kapal), Yono serta seorang tekong kapal. "ketiga tersangka ini kita tetapkan sebagai tersangka ilegal Fishing di berkas terpisah" Tutup Teguh (ACD).

Subscribe to receive free email updates: