Puluhan Pukat Trawl Mini Beroperasi Di Sei Berombang, Labuhanbatu

Detiknewsocean.com, Labuhanbatu ~ Setelah beberapa tahun tidak berani beroperasi karena dilarang bahkan sempat terjadi pembakaran di era tahun 1997 lalu, kini puluhan Pukat Trawl mini atau lebih dikenal dengan nama pukat harimau kembali beroperasi. Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 02 Tahun 2015 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Saine Nets) di WPPNRI.

Beroperasinya puluhan Pukat Trawl Mini milik pengusaha di Kecamatan Sei Berombang Kabupaten Labuhanbatu itu dibenarkan oleh Kepala Satuan Polisi Perairan (Sat Polair), AKP H Suwito kepada awak media DNO ini diruang kerjanya, Jumat (7/10/2016).

“Kita beri kesempatan sampai bulan depan, apa bila ada warga yang complain atas beroperasinya pukat trawl mini, akan kita stop” katanya.
Puluhan Pukat Trawl Mini Beroperasi Di Sei Berombang
Alat Tangkap Ikan Pukat Trawl Mini, Beroperasi Di Sei Berombang. Detiknewsocean.com
Dijelaskannya, dari laporan yang diterimanya, sekitar 48 kapal Pukat Trawl yang pemiliknya warga sei berombang siap turun kelaut menangkap ikan.

Sedangkan beroperasinya kapal penangkap ikan itu atas dasar permintaan warga setempat dan pertimbangan lainnya. Sayangnya, AKP H Suwito tidak menjelaskan dasar hukum dan ijin operasi pukat trawl itu beroperasi dari mana.

Ditempat terpisah, salah seorang pengusaha pemilik pukat trawl mini yang ditemui awak media ini dikediamanya mengakui bahwa ia memiliki dia buah kapal pukat trawl mini penangkap ikan. “ saya memilki dua buah kapal, kalau mau tahu masalah lain, tanyakan saja kepada tekongnya” kata Beng Khui singkat.

Berbeda dengan Jais Nelayan tradisional warga kali baru sei berombang, dirinya jelas menolak keberadaan kapal penangkap ikan yang mengunakan pukat tarik (seine net) kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayapnyanya itu dapat merusak ekosistem ikan dilaut.

"Penindakan terhadap illegal fishing sangat lamban dilakukan pihak yang berwajib, sehingga kami sebagai nelayan tradisional yang berada di perairan kali bari sei barombang sering kali resah dengan nelayan pukat trawl", ujarnya Sabtu, (7/10/2016).

Dijelaskannya lagi, keberadaan pukat trawl itu akan mempengaruhi hasil tangkap ikan nelayan tradisiomal.

“Memang dampaknya tidak saat ini, tetapi jauh kedepan. Karena ikan kecil ikut masuk dalam jarring yang digunakan oleh pukat trawl tersebut. Dan diharapkannya agar para penegak hukum segera memberikan tindakan tegas dengan cara melarang beroperasinya pukat trawl yang dapat mengancam keseimbangan laut ataupun kelestarian laut. (ACD)

Subscribe to receive free email updates: