Arief Rachman : Menempuh Siswa Berakhlak Mulia Dengan Pendidikan Karakter

Detiknewsocean.com, Jakarta ~  Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah) sehingga iya dapat mencapai kecakapan sosial dan mengembangkan kepribadiannya.

Pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar.

Prof Arief Rachman selaku Pakar dari pendidikan mengatakan, pengembangan pendidikan berkarakter di Indonesia bertujuan mewujudkan peserta didik yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, cerdas, bertanggung jawab, dan demokratis.

"Pendidikan di sekolah harus dikembalikan pada kepentingan pembentukan akhlak mulia dan budi pekerti," kata Arief Rachman dalam siaran persnya yang diterima Antara di Jakarta, Rabu, 09-11-2016.
Arief Rachman : Menempuh Siswa Berakhlak Mulia Dengan Pendidikan Karakter
Illustrasi Pendidikan
Pendidikan yang sukses, menurut Arief yang juga Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, adalah pendidikan yang mampu mengantarkan siswa menjadi anak bertakwa, berkepribadian matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, serta mempunyai rasa kebangsaan dan berwawasan global.

Karena itu, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 19 Juni 1942, itu menyayangkan banyaknya guru yang masih menekankan pembelajaran pada aspek kognitif (ilmu pengetahuan) dan kurang menekankan pada aspek afektif (sikap). Hal tersebut mengakibatkan pembinaan akhlak mulia dan budi pekerti belum tercapai dengan sempurna.

"Jadilah guru yang berhati tenang dan sejuk, bersemangat, gembira dan hangat. Guru itu harus hati-hati, tenggang rasa, damai, terkendali, dapat dipercaya dan emosinya seimbang. Ia juga harus optimistis, aktif, bermasyarakat, berorientasi gembira, pemimpin yang merdeka, fleksibel dan memahami perbedaan, dan senang berkomunikasi," katanya.

Sebaliknya, lanjut dia, "jangan menjadi guru yang dingin, gampang sedih, atau malah gampang bergejolak dan panasan. Guru tidak boleh gampang murung, tegang, tidak bersemangat, penuh perhitungan, kaku, dingin, pendiam, pasif, perasa, tidak tenang, agresif negatif, dan berubah-ubah".

Di sisi lain, katanya, "pola asuh orang tua juga menentukan pembentukan karakter dan akhlak anak. Orang tua yang menerapkan pola asuh suri tauladan akan lebih baik ketimbang pola asuh yang otoriter, melindungi, dan membebaskan anak".

"Perilaku orang tua yang memberi suri tauladan akan menghasilkan anak yang hormat kepada orang tua, senang berdiskusi, berkesadaran tujuan hidup, merasa diperlukan, dan memiliki tempat bertanya".

Selain itu, kata Arief, "memberi suri tauladan akan membentuk anak menjadi mudah bersosialisasi, berprinsip, dewasa, dan mampu menjaga nama baik keluarga" tutupnya. (JSh)

Subscribe to receive free email updates: