Abang Bunuh Adik Kandung, Sagala: Aku Selalu Diusir Dia dan Anaknya dari Rumah

Detiknewsocean.com, Asahan (Sumut) ~ Pertikaian berdarah abang dan adik kandung dan berujung hilangnya nyawa di Dusun II, Desa Rawang Baru, Kec Rawang Panca Arga, Asahan, Rabu (8/11) ternyata bukan hanya soal warisan. Ternyata ada motif lain di balik peristiwa itu.

Tersangka Sahala Sagala (58), mengaku menikam adiknya sendiri, Timbang Sagala (56), karena dirinya sering dicela dan diusir dari rumah peninggalan orangtua mereka.

Abang Bunuh Adik Kandung, Sagala: Aku Selalu Diusir Dia dan Anaknya dari Rumah
Sahala Sagala, tersangka pembunuh adiknya sendiri.
“Gimana lae, dia (Timbang Sagala) sama anak-anaknya selalu menghina dan ngusir aku dari rumah,” kata Sahala Sagala, saat ditemui wartawan, di Mapolsek Kota Kisaran.

Terus diusir hingga dicela adik dan keponakannya sendiri, membuat Sahala Sagala (56) gelap mata hingga melakukan penikaman dan menewaskan adik bungsunya, Timbang Sagala, Rabu (8/11) lalu.

“Gimana lae, dia (Timbang Sagala) sama anak-anaknya selalu menghina dan ngusir aku dari rumah,” kata Sahala Sagala.

Diakui pecatan tentara tahun 1988 ini, meski berstatus pengangguran dan menumpang di rumah peninggalan orangtuanya, dirinya merasa tidak pantas direndahkan Timbang dan anak-anaknya.

“Aku pulang kampung baru 4 bulan ini. Selama ini aku yang masak, sementara orang itu macam bos. Sejak orangtua kami sudah meninggal dunia, yang nempati ya adekku itu sama anak-anaknya. Kan nggak salah kalo aku numpang sementara, karena istriku sudah meninggal dan aku mau cari kerja di sini,” ucapnya.

Diakuinya, meski menyimpan sakit hati, namun tak ada sedikitpun menyimpan hasrat untuk menghilangkan nyawa Timbang, adik bungsunya dari enam bersaudara.

“Nggak ada niat mau matikan aku lae, cuma mau ngasih pelajaran. Spontan aja nikam dia. Pisaunya kuambil dari rumah, nggak ada kusiapkan. Nyesal kali lah aku lae. Apalagi ingat nasib ponakan-ponakanku,” kilahnya.

“Sementara ini kita sangkakan pasal 338 subsider pasal 351 ayat 3. Motif karna sakit hati terhadap korban,” ujar Kanit Reskrim Polsek Kota Kisaran, Ipda Syamsul Adhar SH, usai pemeriksaan.

Gomgom Sagala, anak sulung korban Timbang Sagala menceritakan awal kejadian ribut-ribut sebelum penikaman orangtuanya beliau melihat langsung bersama adiknya. Pamannya Sahala mabuk dan marah – marah kepada orangtuanya di warung tuak. Entah bagaimana Timbang Sagala berlari dari kejaran pelaku dan menikami tubuhnya persis di depan rumah korban.

“Tak sanggup kami melihat orangtua terkapar waktu itu bang, langsung kami bawa ke rumah sakit. Kalau bisa dihukum sampai mati di penjara lah dia (Sahala). Tega kali sama bapakku. Apa nggak tau paman itu, yang mengasi makan adik-adikku ini nanti. Siapa lah mengurus kami, adikku masih kecil-kecil,”ujar Gomgom Sagala sambil menghusap airmatanya.

Abang Bunuh Adik Kandung, Sagala: Aku Selalu Diusir Dia dan Anaknya dari Rumah
Jenazah Timbang Sagala, diangkut polisi ke rumah sakit. 
Timbang dibunuh abangnya, Sahala Sagala, 
karena sering mengusir abangnya dari rumah warisan.
Jhon Simarmata salah seorang keluarga korban dikonfirmasi masalah penikaman Timbang Sagala oleh abang kandungnya ini terkait masalah warisan, beliau membenarkan. Ketersinggungan pelaku tidak pernah diterima di keluarga tersebut karena sering mengajak bertengkar adik-adiknya.

Sementara warisan yang diserahkan orangtua mereka sebelum meninggal sudah diberikan kepada semua 6 orang anaknya. Kalau pelaku pada saat itu bagiannya untuk mengurus masuk TNI. Namun karena pelaku disersi, dia kembali ke kampung.

Baca :
“Kalau pelaku dan korban ini sudah lama bertengkar terus. Sebelum kejadian saja, pernah parang-parangan. Kalau warga di sini macam sudah biasalah melihat orang ini bertengkar,”cerita Jhon seperti dikutip dari Sumutpos.co.

Diberitakan sebelumnya, Timbang Sagala tewas usai mendapat 3 tikaman dari abang kandungnya sendiri, Sahala Sagala. Meski mendapatkan perawatan selama satu hari di RSUD Kisaran, ayah 4 anak yang ditinggal mati istrinya 12 tahun lalu ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, Kamis (11/11) sekira pukul 19.30 Wib.(***)

Subscribe to receive free email updates: