Bank Malas Salurkan Kredit, Intermediasi Perbankan Januari-September 2017, Kredit Tumbuh 3,80 %

Detiknewsocean.com, Jakarta ~ Perbankan nasional terkesan masih malas menyalurkan kredit ke sektor riil. Hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi hingga tiriwulan III-2017 belum bergerak dari level lima persen.

Indikasi keengganan bank menyalurkan pembiayaan itu terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jumat (24/11), yang menunjukkan penyaluran kredit periode Januari hingga September 2017 tahun kalender (year to date/ ytd) hanya 166 triliun rupiah atau hanya tumbuh 3,80 persen dibanding akhir tahun lalu. Sedangkan, secara year on year (yoy) atau periode yang sama tahun lalu tumbuh 7,86 persen.
Bank Malas Salurkan Kredit, Intermediasi Perbankan Januari-September 2017, Kredit Tumbuh 3,80%
Perbankan tak kunjung merealisasikan penyaluran kredit guna membantu menggerakkan pertumbuhan ekonomi, sekalipun lembaga keuangan tersebut sudah mempunyai kapasitas.
Kinerja pembiayaan bank itu pun tidak beranjak signifikan pada awal triwulan IV-2017, di mana per Oktober 2017, kredit yang disalurkan baru tercatat sebesar 183 triliun rupiah atau tumbuh 4,18 secara ytd dan 8,18 persen secara yoy.

Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Imansyah mengatakan likuiditas perbankan masih terjaga untuk memenuhi target ekspansi penyaluran kredit, meskipun terjadi pepindahan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari bank ke pasar modal.

“Padahal bank-bank sudah punya kapasitas untuk menyalurkan kredit, namun tidak kunjung terealisasi,” kata Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK Imansyah di Jakarta, kemarin.

Terjaganya likuiditas perbankan karena ada ekses likuiditas sejak awal 2017. Bahkan, di akhir Oktober 2017, rasio pinjaman terhadap pendanaan (Loan to Deposit Ratio/ LDR) perbankan masih 88 persen atau masih berada dalam ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia yang sebesar 78-92 persen.

Perbankan jelas Imansyah seharusnya bisa menggenjot penyaluran kredit di dua bulan terakhir 2017 sehingga pertumbuhan kredit secara tahunan bisa mencapai sembilan persen atau lebih tinggi dari 2016 yang sebesar 7,8 persen (yoy).

Dia mengakui, adanya indikasi terjadinya perpindahan pendanaan dari perbankan ke pasar modal. Dunia usaha atau sektor riil cenderung mencari pendanaan lewat pasar modal karena relatif lebih murah dibanding kredit bank.

Indikasi beralihnya sektor riil menarik pembiayaan ke pasar modal tecermin pada kenaikan pembiayaan di pasar modal selama September hingga Oktober 2017 dari 163 triliun rupiah menjadi 197 triliun rupiah.

Kritikan BI

Sementara itu, pertumbuhan tahunan Dana Pihak Ketiga Bank justru menurun. Per Oktober 2017, pertumbuhan DPK Bank stercatat 10,9 persen (yoy) menjadi 326 triliun rupiah atau lebih rendah dibanding pertumbuhan September 2017 yang sebesar 11,69 persen senilai 306 triliun rupiah seperti dikutip dari Koran-Jakarta.

Terkini :
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara baru-baru ini menyentil bank karena labanya terus tumbuh, tetapi kreditnya malah stagnan. Hal itu jelas Mirza mengindikasikan bahwa bank enggan menurunkan suku bunga agar net interest margin (margin bunga bersih) tidak turun.

Dia bahkan terang-terangan mengkritik Bank BUMN dan meminta pemerintah sebagai pemegang saham tidak hanya menilai kinerja direksi dari keberhasilan meraih target laba, tetapi menambah indikatornya dari pertumbuhan penyaluran kreditnya.(***)

Subscribe to receive free email updates: