Ratusan Hektar Mangrove Dibabat, Kayunya Dijadikan Arang

Detiknewsocean.com, Asahan (Sumut) ~ Ratusan hektar hutan bakau (mangrove) di bibir pantai Desa Pematang Sei Baru, Kec Tanjungbalai, Kab Asahan dirambah. Kayu hutan tersebut dijadikan arang. Bahkan dapur arang sudah tersedia di sana.

Hasil pantauan di lokasi, perambahan ini diduga dilakukan okmun pengusaha dengan mempekerjakan warga untuk mengolah kayu bakau menjadi arang.

Ratusan Hektar Mangrove Dibabat, Kayunya Dijadikan Arang
Hutan bakau (mangrove) di bibir pantai Desa Pematang Sei Baru, Kec Tanjungbalai, Kab Asahan, yang dirambah warga. Kayu hutan tersebut dijadikan arang/Foto: Ricky/PM
Menurut Aswad, Surya Bakti dan Rau, warga setempat yang ditemui wartawan, mengatakan sudah ada dua dapur arang yang telah beroperasi secara ilegal sejak setahun terakhir di desa itu.

Menurut mereka, daerah yang dijadikan tempat pengolahan arang itu merupakan kawasan hutan mangrove yang dilestarikan melalui organisasi Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan), pada tahun 2004 dan menjadi percontohan nomor dua terbaik setelah papua, serta diakui di Asia karena ditanam dengan kwalitas bibit terbaik.

Namun pada tahun 2016 lalu, sekelompok warga yang mengatasnamakan kelompok tani, yang dimotori oleh pengusaha dari Sei Kepayang, merambah ratusan hektar hutan mangrove itu. Mereka berdalih hutan itu akan dijadikan lahan pertanian, dengan dasar wilayah itu merupakan Area diluar kawasan hutan (APL)
Masyarakat di sana sebenarnya sudah berupaya semaksimalnya untuk menolak aktifitas kelompok tani itu. Namun karena kuatnya pengaruh oknum pengusaha serta pemerintah setempat tidak perduli bahkan tidak bertindak, sehingga kawasan itu dikuasai. Kini hutan ratusan hektare itu dijadikan tempat pengolahan bahan baku industri arang untuk diekspor ke luar negeri.

“Tahun 2004 melalui program Gerhan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat di sini menanam mangrove itu. Anehnya, saat ini bisa dirambah malah dijadikan kayu arang oleh sekelompok orang. Ironisnya bang, jika masyarakat yang mengambil kayu itu dilarang dan ditangkap oleh petugas,” tutur warga di sana.

Masih kata warga, perlakuan sebaliknya terkait kegiatan perambahan kayu yang dilindungi itu, yang dilakukan kelompok tani yang dipekerjakan pengusaha tadi, hingga kini tidak pernah tersentuh oleh aparat penegak hukum, katanya.

“Bayangkan bang belum lama ini, oknum dari Polda menangkap truk bermuatan arang dari sini saat melintas di Tebing Tinggi. Setelah itu, mereka juga turun langsung meninjau ke lokasi produksi arang dan memanggil tiga oknum pengelola produksi arang. Dua oknum diantaranya sempat ditahan beberapa hari di Polda, namun saat ini oknum yang ditahan tersebut sudah dilepaskan,” tegas mereka.

Belum Ada Izin

Diduga apiknya relasi serta permainan bisnis produksi arang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini, membuat kelompok itu bisa tetap beroperasi. Kerena berdasarkan pengakuan camat Tanjungbalai, pihaknya tidak ada mengeluarkan izin terkait adanya pengolahan kayu arang bakau di desa pematang Sei baru itu.
Ratusan Hektar Mangrove Dibabat, Kayunya Dijadikan Arang

Kayu bakau (mangrove) yang ditebang dari bibir pantai Desa Pematang Sei Baru, Kec Tanjungbalai, Kab Asahan, dikumpul dan akan dijadikan arang/Foto: Ricky/PM.
“Sampai saat ini kami tidak ada mengeluarkan rekomendasi apapun untuk pengolahan arang di desa itu,” kata Idris, Camat Tanjungbalai ketika ditemui di Mapol Sub Sektor Bagan Asahan baru baru ini.

Senada juga dikatakan Kepala desa Pematang Sei Baru, Hermansyah ketika dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (8/11). Dirinya mengatakan sejauh ini belum ada mengeluarkan rekomendasi produksi arang dari kayu yang dilindungi tersebut.

Baca :
“Saya tidak pernah mengeluarkan rekomendasi terkait izin produksi arang di daerah saya, baik atas pribadi maupun perusahaan. Mungkin mereka langsung ke Dinas Kehutanan karena bahan bakunya berasal dari kayu mangrove,” ujarnya saat dikutip dari Sumutpos.co.

Sementara itu, Kepala UPT Dinas Kehutanan Wilayah III Asahan belum dapat dikonfirmasi terkait permasalahan ini.(***)

Subscribe to receive free email updates: