Kecanduan Penggunaan Ponsel Bisa Mengubah Otak

Detiknewsocean.com ~ Mari mengingat, berapa kali Anda memeriksa ponsel pintar dalam sehari? Mungkin 30, 50, atau bahkan ratusan kali.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Plos, orang dewasa muda menggunakan ponsel pintar kira-kira dua kali lipat dari perkiraan mereka.

Sebenarnya, studi pendahulu menemukan bahwa orang dewasa muda menggunakan telepon genggam mereka rata-rata lima jam sehari.

Kecanduan Penggunaan Ponsel Bisa Mengubah Otak
Ilustrasi. Menurut penelitian, sebagian orang dewasa muda kecanduan ponsel. Padahal, ini dapat mengubah otak. Sejauh mana pengaruhnya? Mari Kita Periksa.
"Fakta bahwa kami menggunakan telepon kami dua kali lebih banyak daripada yang kami pikir menunjukkan bahwa banyak penggunaan ponsel pintar tampaknya merupakan kebiasaan, perilaku otomatis yang tidak kami sadari," kata Dr. Sally Andrews, psikolog di Nottingham Trent University dan penulis utama studi tersebut, kepada Huffington Post.

Memeriksa ponsel; berselancar di dunia maya, berinteraksi di media sosial, dan mengobrol, memang mengasyikkan sampai sering membuat orang lupa waktu.

Hasil studi menyatakan bahwa bagi remaja, kecanduan internet juga dapat membahayakan senyawa kimia otak. Penelitian ini dipresentasikan pada 30 November 2017 di pertemuan tahunan Radiological Society of North America di Chicago.

Presentasi dilakukan oleh penulis utama studi ini, yaitu Dr. Hyung Suk Seo, seorang profesor neuroradiologi di Korea University di Seoul, Korea Selatan. Hyung menjelaskan bahwa ada ketidakseimbangan senyawa kimia pada otak remaja yang kecanduan internet.

Ketidakseimbangan ini serupa dengan yang terlihat pada orang yang mengalami kecemasan dan depresi.

Kecanduan Internet

Pada penelitian ini, ada 19 remaja yang kecanduan internet dan 19 remaja yang tidak terdaftar menggunakan spektroskopi resonansi magnetik, sebuah bentuk MRI yang dapat mengungkapkan perubahan komposisi kimia otak.

Kecanduan internet dan ponsel pintar diukur dengan menggunakan kuesioner terstandardisasi.

Definisi kecanduan internet oleh American Psychiatric Association adalah penggunaan internet yang berlebihan yang menyebabkan gangguan pada kehidupan sehari-hari, tidur, dan hubungan.

Peserta penelitian yang skornya menunjukkan kecanduan cenderung mengatakan bahwa penggunaan internet dan ponsel pintar mengganggu rutinitas sehari-hari, kehidupan sosial, tidur, dan produktivitas mereka.

Remaja ini juga memiliki skor depresi, kegelisahan, insomnia, dan impulsif yang jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol, yaitu peserta yang skornya tidak menunjukkan kecanduan internet.

Remaja dengan kecanduan internet dan ponsel pintar menunjukkan kelebihan jumlah neurotransmitter yang jelas yang disebut gamma-aminobutyric acid (GABA) di satu wilayah sistem limbik, pusat kendali emosional otak.

GABA adalah penghambat neurotransmiter, yang berarti menghambat sel syaraf dari penembakan.

GABA ditemukan di otak setiap orang, tapi terlalu banyak neurotransmitter ini di daerah yang salah dapat menyebabkan efek melemahkan.

"Bila fungsi normal sistem limbik terganggu, pasien dapat mengalami kecemasan, depresi atau kecanduan," kata Max saat dikutip dari Beritagar.

Max mengatakan bahwa ada beberapa penelitian yang menerbitkan kecanduan alkohol dan zat lainnya dengan ketidakseimbangan kimia di berbagai wilayah otak, tetapi ini adalah studi pertama yang ia baca tentang kecanduan internet.

Apakah hal tersebut dapat diatasi? Kabar baiknya adalah ketidakseimbangan itu bisa dibalik dalam beberapa minggu menggunakan jenis psikoterapi yang disebut terapi perilaku kognitif.

Menurut catatan Max, ada 12 remaja dengan kecanduan internet yang terus berpartisipasi dalam terapi perilaku kognitif, dan setelah sembilan minggu, mereka semua menunjukkan tingkat GABA yang menurun atau normal pada otak mereka.

Menurut para periset, remaja tersebut melengkapi bentuk modifikasi terapi yang digunakan untuk mengobati kecanduan video game, yang melibatkan sesi latihan perhatian selama 75 menit setiap minggu. Ini termasuk mengenali impuls internet, menemukan aktivitas alternatif dan mengekspresikan emosi.

Baca :
"Dengan intervensi yang tepat, para remaja pada dasarnya bisa memperbaiki perubahan kimiawi itu" di otak mereka, kata Max. "Itu adalah bagian dari studi yang saya anggap paling menarik, ini menunjukkan ada harapan."

Mengingat ukuran sampel yang kecil dalam penelitian ini, Max Wintermark, profesor radiologi dan kepala neuroradiologi di Stanford University menekankan bahwa terlalu dini untuk mengatakan bahwa ketidakseimbangan kimia yang diamati pada otak remaja terkait dengan masalah klinis seperti kecemasan dan depresi. Pengujian lebih lanjut pada kelompok orang yang lebih besar dibutuhkan.

Studi ini rupanya dianggap kontroversial. Menurut Anthony Bean, Ph.D., psikolog klinis mengatakan kepada Inverse bahwa kecanduan ponsel pintar dan internet bukanlah masalah kesehatan mental yang diakui.

"Tidak ada format standar untuk menentukan kecanduan ponsel, jadi tidak jelas apa yang mereka bicarakan secara spesifik. Jika tidak ada pandangan standar atau pandangan yang diterima, konsensus umum yang lalu tanpa tanda yang sesuai atau yang teridentifikasi, maka sangat sulit untuk mengatakan bahwa seseorang mengukur kecanduan," ujar Anthony. (***)

Subscribe to receive free email updates: