Meraba Peluang Cari Uang Dengan Fintech di Tahun Depan

Detiknewsocean.com, Jakarta ~ "Semua orang punya banknya masing-masing di smartphone.”

Fanny Verona, Managing Director PT Digital Artha Media, perusahaan financial technology (fintech) yang menjalankan E-Cash dari Bank Mandiri dan Line Pay E-Cash, begitu percaya diri fintech beberapa tahun ke depan akan semakin berkibar. Fintech akan digunakan secara masif di smartphone milik semua orang.

Fanny memang tak keliru, salah satu bagian fundamental dari fintech adalah keberadaan smartphone. Pada 2017, sebanyaj 30,9 persen penduduk dunia merupakan pengguna smartphone. Di Indonesia diperkirakan 100 juta warga Indonesia adalah pengguna smartphone pada tahun depan.

Meraba Peluang Cari Uang dengan Fintech di Tahun Depan
Ilustrasi fintech. Getty Images/iStockphoto
Fintech merupakan program/aplikasi komputer atau teknologi lain yang dirancang sebagai layanan finansial jasa keuangan seperti perbankan. Bentuk fintech bisa bermacam-macam layanan seperti payment, aggregator, lending, crowfunding, dan financial planning.

Tahun ini, fintech di Indonesia ibarat sosok anak kecil yang sedang tumbuh dan berkembang. Sektor fintceh payment atau pembayaran digital menjadi sektor terkuat fintech hingga akhir tahun ini di global maupun di Indonesia.

"Payment itu semua orang pakai. Mau punya rekening atau tidak pasti bertransaksi. Itu kebutuhan dasar semua orang,” terang Fanny.

Pada rentang 2016-2017, merujuk Opus, firma konsultasi fintech, dalam laporannya bertajuk “For 2018 Fintech Outlook: Trend, Oportunities, Challanges” mengungkapkan pendapatan sektor layanan pembayaran (payment) keuangan bagi dunia fintech mencapai $3,6 triliun. Jumlah ini meningkat 20 persen jika dibandingkan periode 2015-2016.

Hingga akhir 2017, wilayah Asia Pasifik, khususnya Cina merupakan juaranya. Perputaran uang di sektor payment di negeri itu ditaksir mencapai $8 triliun per tahun. Meningkat dari tahun 2016 yang ada di angka $5,5 triliun. Alipay dan WeChat Pay sebagai penguasanya.

“Di sana ekosistemnya jelas. Di Cina semua menerima Alipay dan WeChat Pay. TopUp gampang,” kata Fanny.

Gejala menggeliatnya fintech juga terjadi di Tanah Air. Di Indonesia berdasarkan “Fintech Report 2017” yang digagas DailySocial, dunia fintech tengah menuju masa kejayaannya. Total investasi terbuka yang digelontorkan pada dunia fintech Indonesia di 2017 mencapai $176,75 juta.

Tahun ini, masih menurut publikasi tersebut, ada 188-196 pemain fintech di Indonesia. Sementara data yang diungkap PT Digital Artha Media, hingga November 2017 terdapat 25 pemain fintech yang telah memperoleh izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebanyak 33 fintech lainnya tengah dalam proses.

Selain besarnya investasi fintech, pada 2017 merupakan periode aktif keterlibatan pemerintah di dunia bisnis sarat teknologi ini yang berpotensi mendisrupsi bisnis bank-bank konvensional. Beberapa rambu-rambu hukum sudah disiapkan. Pada 2017, Bank Indonesia menerbitkan satu aturan dasar dan dua aturan turunan soal fintech.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 19/14/PADG/2017 tentang Ruang Uji Terbatas Teknologi Finansial, Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 19/15/PADG/2017 tentang Tata Cara Pendaftaran, Penyampaian Informasi, dan Pemantauan Penyelenggaraan Teknologi Finansial.

Aturan yang dikeluarkan BI itu, menyusul aturan OJK. Pada akhir 2016 OJK mengeluarkan Peraturan Otoritas jasa keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang layanan Pinjam Meminjam Berbasis Teknologi Informasi. Ini sebagai aturan main bisnis pinjam meminjam uang menggunakan teknologi digital.
Meraba Peluang Cari Uang dengan Fintech di Tahun Depan

Prospek Fintech di 2018


Secara umum di dunia, pada 2018 merupakan tahun sinergi antara institusi keuangan konvensional dengan fintech. Fanny mengatakan bahwa ini terjadi antara lain karena dunia perbankan sudah sangat menginginkan fintech. Mereka tak ingin raib dimakan kehadiran teknologi-teknologi yang mendisrupsi bisnis konvensional.

Dari sisi teknologi, fintech tahun depan merupakan layanan bisnis yang jauh lebih canggih. Ini terkait dengan semakin berkembangnya artificial intelligence (AI) maupun machine learning. Pemanfaatan dua teknologi ini mampu memberikan pengalaman yang lebih individual bagi para pengguna fintech.

Opus, dalam publikasinya mengutip Carlos Torres Villa, Chief Executive Officer BBVA Spanyol yang mengatakan fintech kemudian akan menjadi “self-driving bank experience.”

Kuatnya fintech, kemudian diprediksi akan menghasilkan pendapatan hingga $2,3 triliun hanya dari sektor payment saja.
Optimisme menyongsong fintech di 2018 memiliki tantangan. Penerapan uang tunai yang masih tinggi adalah salah satu alasannya.

Baca :

“Real kompetitor itu uangnya (dalam bentuk tunai), bukan yang lain,” kata Fanny.

Untuk masalah ini, India nampaknya bisa dijadikan rujukan. Penerapan dompet digital di negara ini terhitung tinggi. Ini terjadi salah satunya atas demonitisasi yang dilakukan pemerintah sejak November 2016 lalu. Di 2022, atas kebijakan itu, India diproyeksikan akan membuat pasar fintech senilai $4,4 miliar.

Selain adopsi uang kontan, permasalahan yang menjadi tantangan dunia fintech, khususnya di Indonesia, ialah infrastruktur yang belum solid. Go-Pay, E-Cash, Doku Wallet, dan fintech-fintech lain yang ada di Indonesia seakan-akan berjalan sendiri-sendiri.

Ini mengakibatkan terlalu terpecahnya fintech di Indonesia. Go-Pay umumnya hanya berguna membayar layanan-layanan yang disediakan Go-Jek. Sementara E-Cash dari Bank Mandiri tak bisa dipakai membayar layanan-layanan Go-Jek, begitu juga sebaliknya.

Berbagai tantangan dunia fintech yang masih jadi pekerjaan rumah, maka tahun depan adalah periode memperkuat eksistensi para fintech dengan teknologi-teknologi baru seperti AI yang bisa diadopsi, di tengah prospeknya bisnis masa depan ini. Demikian dikutip dari Tirto. (***)

Subscribe to receive free email updates: