Wara Sinuhaji: Potret Sisingamangaraja XII dan Pahlawan Lainnya Wajib Dipajang di Bandara KNIA

Detiknewsocean.com, Medan (Sumut) ~ Kementerian Sosial Minus Sejarawan, Banyak Ruang Publik Mubajir. Sejarawan Sumut Drs Wara Sinuhaji MHum dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU menilai potret berupa gambar atau patung-patung pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII, Djamin Gintings, T Amir Hamzah dan para pahlawan nasional lainnya wajib dipajang di area dalam (indoor) Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA) Medan.

"Di kota atau negara kita begitu banyak ruang-ruang kosong yang tampak jadi mubajir, apakah itu berupa loby kantor-kantor pemerintah, teras kampus-kampus, teras atau loby hotel-hotel atau ruang tunggu Bandara dan terminal umum. Itu, ruang tunggu Bandara Kuala Namu (KNIA) yang begitu luas ada baiknya, bahkan wajiblah, memajang potret berupa foto atau patung para pahlawan nasional asal Sumut, seperti Raja Sisingamangaraja XII dan pahlawan nasional lainnya," ujar Wara Sinuhaji kepada pers.
Wara Sinuhaji: Potret Sisingamangaraja XII dan Pahlawan Lainnya Wajib Dipajang di Bandara KNIA
Sejarawan Sumut Drs Wara Sinuhaji MHum Dosen dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU.
Dia mencetuskan hal itu belum lama ini ketika tampil sebagai salah satu pembicara utama dalam seminar nasional mencari dan menghargai para pahlawan asal Sumatera Utara, dengan topik 'Kilas Balik dan Perspektif Historis Perjuangan Pahlawan Nasional asal Sumatera Utara' di Hotel Four Point Medan. Secara khusus, Wara mengangkat topik tentang profil dan kronologi perjuangan para pahlawan asal Sumatera Utara sehingga akhirnya menjadi pahlawan nasional saat ini.

Tampil juga sebagai pembicara di seminar itu, Hariyono dari Unit Kerja Presiden (UKP) bidang sejarah dengan topik 'Pahlawan dan Peradaban Bangsa', antropolog senior Prof Usman Pelly PhD dari Unimed dengan topik 'Strategi Perjuangan Para Pahlawan Sumut: Sederhana-Konsisten', Ketua Forum Sejarawan Indonesia (FSI) Sumut DR Suprayitno MHum, dengan topik 'Mengenang Pahlawan Nasional Djamin Gintings' dan ketua Prodi Sejarah FIB USU Dra Ratna MS dengan topik 'Peran Para Tokoh Melayu dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Sumatera Utara'.

Pada sesi tanya jawab dengan peserta seminar yang dihadiri 300-an orang itu, Wara mencontohkan sejumlah elemen masyarakat dan perusahaan di Sumut yang mulai peduli dengan memajang foto para pahlawan nasional asal Sumut, berupa baliho atau spanduk-spanduk di pusat kota seperti kantor PTPN-III di Jalan Sudirman, di perempatan Jalan Pattimura-Djamin Gintings-Seiwampu-Iskandarmuda dan lokasi lainnya.

Dia juga mengapresiasi gagasan peserta, misalnya Jonathan Ikuten Tarigan selaku salah satu putra pejuang angkatan 45 dari Resimen Napindo Halilintar di Tanahkaro, agar patung-patung para pejuang di daerah segera dibangun pada objek-objek strategis di daerah.

Narasumber Usman Pelly juga mendukung bentuk penghargaan publik lainnya, misalnya dengan menabalkan nama-nama pahlawan pada jalan umum yang masih menggunakan nama 'kurang bermakna', atau memasang gambar para pahlawan pada sampul buku-buku sekolah seperti pada zaman 1960-1970-an dulu.

Baca :
"Jumlah pahlawan nasional di Indonesia yang sekarang berjumlah 173 orang itu, termasuk 10 orang dari Sumut, tiap tahun pasti akan bertambah. Tapi catat dan ingat, para tokoh itu menjadi pahlawan ternyata bukan karena seleksi atau verifikasi pemerintah di departemen atau kementerian sosial, tetapi karena desakan atau permintaan masyarakat di kalangan ahli warisnya. Kalau pejabat bidang sejarah di Kemensos itu tak jelas apa kerjanya selama ini, mungkin karena minus dari kalangan ahli atau alumni sejarah. Itu sebabnya pakar sejarah di negeri ini dikucilkan dan hidupnya miskin seperti kami-kami ini. Tapi kami bersyukur karena kami sejarawan jadi tempat bertanya banyak orang," ujar Wara Sinuhaji dengan nada lantang, dan disambut tepuk tangan riuh peserta.

Ke-10 pahlawan nasional dari Sumut itu adalah adalah Abdul Haris Nasution, H Adam Malik, Tengku Amir Hamzah, DI Panjaitan, Djamin Gintings, Dr Ferdinand Lumbantobing, Sisingamangaraja XII, TB Simatupang dan Zainul Arifin. Demikian dikutip dari Hariansib. (***)

Subscribe to receive free email updates: