KPK Buka Kemungkinan Adanya Tersangka Baru Kasus Korupsi e-KTP

Detiknewsocean.com, Jakarta ~ KPK masih membuka kemungkinan adanya tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Saat ini, fakta-fakta persidangan tengah dipelajari.

"Peluang penetapan tersangka baru untuk pihak-pihak lain dalam kasus KTP elektronik tentu saja ada. Tapi dengan catatan yang paling penting sepanjang bukti permulaan yang cukup itu kita temukan. Kenapa ini penting, karena selain 6 yang sudah kita proses saat ini, kami juga sedang melakukan proses pendalaman terhadap fakta-fakta yang sudah ada," kata Kabiro Humas KPK Febri Dianyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (18/1).

KPK Buka Kemungkinan Adanya Tersangka Baru Kasus Korupsi e-KTP
Gedung KPK/ Copyright©liputan6

Pendalaman fakta-fakta tersebut merupakan upaya KPK untuk melihat siapa pihak lain yang diduga terlibat dan bertanggung jawab dalam kasus korupsi e-KTP. Menurut Febri, kasus e-KTP juga menjadi salah satu prioritas yang akan diselesaikan pada tahun 2018.

"Kami melihat siapa pihak lain yang diduga terlibat dan harus bertanggung jawab dalam kasus KTP elektronik ini. Proses masih berjalan dan nanti tentu saja sesuai yang kita sampaikan di 2017, salah satu yang jadi concern kita adalah kasus e-KTP ini karena dugaan kerugian negaranya cukup tinggi, selain BLBI dan beberapa kasus lain yang dugaan kerugian negaranya triliunan rupiah," ucapnya.

Saat ini ada 3 orang yang telah divonis terkait kasus e-KTP, yaitu mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman, eks Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Kemendagri Sugiharto, serta pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong. Sedangkan seorang lagi masih menjalani proses persidangan yaitu Setya Novanto.

Kemudian, ada 2 orang yang masih berstatus sebagai tersangka yaitu Anang Sugiana Sudihardjo dan Markus Nari. Kabar terakhir, KPK tengah mengembangkan kasus itu ke arah korporasi. Kasus korupsi e-KTP disebut merugikan negara hingga Rp 2,3 triliun.

Panjang Kayak Ular

Skema transaksi barter dolar ala Irvanto Hendra Pambudi Cahyo kembali dikulik. Pengusaha money changer PT Raja Valuta, Deni Wibowo, menyebut transaksi tersebut panjang dan rumit.

Awalnya Deni mengaku pernah diminta mentransfer uang ke rekening OEM Investment Pte Ltd. Dia mengaku lupa nama seseorang itu.

"Siapa nasabah Anda yang minta beli valas sehingga Anda minta bantuan Neni?" tanya hakim kepada Deni dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta.

"Di situ di rekening ada," jawab Deni.

Hakim meminta Deni mengingat nama orang itu. Hakim merujuk pada sidang sebelumnya ketika pegawai PT Mekarindo Abadi, Neni, yang mengaku pernah mengirimkan USD 1,4 juta ke rekening OEM Investment Pte Ltd atas perintah Deni.

"Coba ingat-ingat dulu. Pada saat ini nilai dolar berapa dan cash atau transfer," kata hakim.

"Lupa saya Pak," jawab Deni.

"Nggak tahu. Mungkin ada money changer lain oh ini kali yang beli kayak ular Pak, panjang. Siapa ujungnya yang beli," imbuh Deni, yang membuat pengunjung sidang tertawa.

"Masak nggak ada yang ingat sih?" tanya hakim lagi.

"Sumpah nggak tahu Pak," kata Deni.

"Sudah disumpah tadi. Hati-hati jangan banyak sumpah nanti kemakan sumpah," tutur hakim.

Dalam dakwaan Novanto, jaksa pada KPK menyebut Novanto menerima total uang USD 7,3 juta terkait korupsi proyek e-KTP. Duit itu diterima Novanto melalui tangan Made Oka Masagung dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo.

Uang yang diterima Novanto melalui Made Oka sebesar USD 3,8 juta. Uang itu diterima dari Johannes Marliem dan Anang Sugiana Sudihardjo.

Jaksa kemudian memerinci pemberian tersebut sebagai berikut:

1. USD 3,8 juta diterima Novanto melalui Made Oka dengan perincian yaitu USD 1,8 juta melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment Pte Ltd dan USD 2 juta melalui rekening Delta Energy Pte Ltd di Bank DBS Singapura

2. USD 3,5 juta diterima Novanto melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo pada 19 Januari 2012 sampai 19 Februari 2012.

Soal Transfer Uang

Transaksi yang dilakukan Inayah, istri Andi Agustinus alias Andi Narogong, juga dikulik majelis hakim. Transaksi yang dimaksud yaitu pembelian rumah peninggalan Adam Malik di Menteng, Jakarta Pusat.

Hal itu digali hakim dari Direktur Utama PT Erakom Indonesia, Feri Tan, yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Setya Novanto.

Hakim bertanya tentang komunikasi Feri dengan Juli Hira--Komisaris PT Berkah Langgeng Abadi--yang bergerak di bidang penukaran uang.

"Anda pernah jual beli valuta asing sama Juli Hira?" tanya ketua majelis hakim Yanto pada Feri dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat.

"Pernah 239 ribu dolar saya beli dolar dulu lalu saya transfer," jawab Feri Tan.

Setelah itu, Feri Tan diminta Juli untuk mentransfer uang ke rekening Inayah dan Antarini Malik. Uang yang ditransfer untuk keduanya sekitar Rp 500 juta dan Rp 1,9 miliar.

Feri Tan menyatakan PT Erakom Indonesia bergerak di bidang teknologi komputer. Namun biasa melakukan jual beli valas kepada Juli Hira.

"Pernah transfer ke rekening Antarini Malik dan Inayah diperintah Juli Hira," kata Feri Tan.

Meski begitu, Feri mengaku tidak mengenal Inayah dan Antarini Malik. Dia juga tidak bertanya alasan mentransfer uang tersebut.

"Tidak tahu, nggak ditanya juga," tutur Feri.

Dalam persidangan dengan terdakwa Andi Narogong pada Senin, 28 Agustus 2017, Inayah sempat mengamini pembelian rumah dengan pembayaran melalui money changer. Rumah itu merupakan rumah Antarini Malik, putri Adam Malik.

Baca :

"Mekanismenya ada yang secara tunai, ada transfer. Pemiliknya Ibu Antarini Malik. Tunainya dalam cek, Danamon. Lupa (berapa tahap)," tutur Inayah saat itu saat dikutip dari Detik.

Jaksa Basir mempertanyakan pembayaran melalui money changer. Inayah membenarkan hal tersebut.

"Di record Ibu Meliyana (pemilik money changer) ada transaksi 30 Juli 2016, ada Rp 1.831.620.000 dan Rp 1.050.000.000 untuk pembelian rumah di Menteng.

Lewat Ibu Meliyana baru hampir Rp 3 miliar, sisanya dari mana?" tanya jaksa Basir.

"Pakai cek Danamon dalam negeri," tutur Inayah. (***)

Subscribe to receive free email updates: