Pengembang Tak Komitmen "Penggusuran Kampung Tua Sungai Binti Batam"

Detiknewsocean.com, Batam (Kepri) ~ Sebanyak 127 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di Rumah Liar (Ruli) Kampung Tua Sungai Binti, Sagulung terpaksa digusur dan direlokasi setelah lahan yang ditempati mereka dibersihkan pihak pengembang, Selasa (13/3) siang.

Mereka dipindahkan ke kavling Sungai Aleng, atau tepatnya di jalan menuju Pelabuhan Rakyat (Pelra) Sagulung. Mereka pun pindah kesana dengan kesepakatan atas ganti rugi atau sagu hati sebesar Rp4,2 juta dan kavling kosong seluas 8x10 meter.

Warga: Pengembang Tak Komitmen Saat Penggusuran Ruli Kampung Tua Sungai Binti Batam
Rumah Liar (Ruli) Kampung Tua Sungai Binti, Sagulung terpaksa digusur dan direlokasi setelah lahan yang ditempati mereka dibersihkan pihak pengembang, Selasa (13/3) siang/Haluankepri.
Namun, warga yang masih tinggal disana mengeluh karena perjanjian mereka tak ditepati, sebab perjanjian yang disepakati seperti hanya cleaning dipinggir perbatasan, kini para pekerja dari pengembang pun sudah masuk ke pemukiman warga sekitar.

"Memang sudah ada ganti rugi dan dikasih kavling. Hanya saja pihak pengembang sudah langsung masuk ke pemukiman warga, sementara perjanjian dengan warga hanya sebatas cleaning yang dipinggir perbatasannya saja," ujarnya Arasdi, ketua RT02/RW08 Kampung Tua Sungai Binti.

Dia juga mengatakan, sebenarnya tak ada digusur, namun warga yang tinggal disini berinisiatif untuk pindah dan membangun rumahnya di kavling Sungai Aleng tersebut. Cuma perjanjian itu belum ada disepakati.

Tapi yang dikesalkan itu, sambungnya Asardi lagi, bahwa tempat tinggal mereka di kavling tersebut belum ada surat kelayakan huni dari Dinas Perkimtan hingg saat ini. Apalagi drainase atau paritnya juga belum siap dikerjakan.

"Kita yang pindah sendiri. Akan tetapi surat Kelayakan huni belum ada dari dinas Perkimtan dan paritnya belum siap dibangun, makanya kita desak pihak Perkimtan tersebut," ujarnya.

Ketika ditanya lahan yang masih dikerjakan itu mau difungsikan sebagai apa nantinya, Asardi pun tak mengetahuinya apa mau dibangun disana. "Tak tau kita apa mau dibangun disini. Ya karena hak kami sudah diserahkan, otomatis kami pindah," paparnya.

Kemudian, lanjutnya lagi, belum ada perundingan dengan pihak pengembang untuk pindah, namun semata-mata pihak pengembang ini sudah memasuki alat beratnya ke tengah-tengah masyarakat, yang terkesan langsung mengusir warga.

"Buktinya, ada beberapa ibu-ibu disini protes karena sudah masuk alat beratnya. Padahal kita dengan pihak pengembang belum ada berunding untuk pindah. Semata-mata sudah ngusir kami dengan keberadaan alat berat ini," kesalnya saat dikutip dari Haluankepri.

Baca :

Pantauan media dilapangan, beberapa unit rumah masih berdiri kokoh. Namun ada juga beberapa pemilik rumah sudah bongkar rumahnya masing-masing. Karena sisa barang yang bisa dipakai langsung diantarkan ke kavling tersebut.

Sementara para pekerja dari pengembang sudah melakukan penimbunan lahan dan membersihkan puing-puing atau sisa dari rumah warga tersebut. (***)

Subscribe to receive free email updates: