Apiki Dan Produsen Ikan Makarel Kaleng Hitung Kerugian Capai Miliaran Rupiah

Detiknewsocean.com, JakartaPerintah penghentian proses produksi ikan kaleng jenis makarel di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membuat para produsen merugi hingga miliaran rupiah. Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI) Ady Surya.

"Saya sedang menghitung sama teman-teman produsen total kerugiannya tetapi kira-kira sekitar miliaran rupiah," katanya di Kantor APIKI Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (31/03/2018).

Apiki Dan Produsen Ikan Makarel Kaleng Hitung Kerugian Capai Miliaran Rupiah
Produsen ikan makarel kalengan yang produknya ditarik akibat temuan cacing, mengaku tengah menghitung besaran kerugian yang dialami perusahaan. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)

Produsen ikan makarel kalengan yang produknya ditarik akibat temuan cacing mengaku tengah menghitung besaran kerugian yang dialami perusahaan.

Produk yang dikeluarkan perusahaan itu, Fiesta Seafood, masuk dalam 27 merek dagang yang disebut BPOM mengandung cacing.

Senada, Juru Bicara PT Heinz ABC Indonesia Silvia Carolina juga mengaku belum bisa memastikan kerugian yang diderita perusahaan. Namun, ia mengakui ada kerugian signifikan akibat penarikan produk merek ABC Mackerel yang diproduksi perseroan.

"Untuk saat ini kami belum bisa (menginformasikan), minggu depan kami kabarkan, segera secepatnya," ujar Silvi melalui sambungan telepon saat dikutip dari CNN.

Ady mengatakan bahwa pabrik ikan makarel kaleng yang ada di Indonesia berada di Bali, Banyuwangi dan beberapa wilayah di Jawa Tengah.

Adapun dampak dari adanya penghentian produksi tersebut dapat dipastikan bahwa ada ribuan pekerja yang sekarang dirumahkan karena produksi dihentikan.

"Jadi yang memproduksi makarel tidak memperkerjakan. Jika dihitung maka ada ribuan pekerja," ucap Ady.

Dirinya mengatakan bahwa sejak dua tahun terakhir para produsen dalam negeri yang menjadi anggota APIKI sudah mulai mendapat Standar Nasional Indonesia (SNI) dari Kementerian Perindustrian.

Bahkan jauh sebelum mendapat SNI banyak produsen yang sudah melewati pengujian mutu lainnya seperti Hazard Analysis & Critical Control Point (HACCP), International Organizaton for Standardization (ISO), sertifikat halal dari MUI dan juga kode MD alias izin produksi dari BPOM.

"Kita sudah melalui standarisasi. Ada yang sudah melewati HACCP, ISO, halal dan juga izin produksi dengan kode MD dari BPOM. Jadi temuan kasus ini mungkin cuman by accident ketika diperiksa ada cacingnya, tetapi tak bisa menjadi produk kami semuanya harus close," tambahnya.

Oleh karena itu Ady meminta pemerintah mencarikan solusi kepada para pengusaha pengalengan ikan Indonesia khususnya masalah tenaga kerja dan juga penurunan omset.

"Kami mendapat dampak sosial ekonomi yang begitu berar. Makanya Industri juga harus selamatkan. Kami berharap pemerintah membantu kami," tegas dia.

Sebelumnya BPOM menyatakan ada 27 ikan makarel kemasan kaleng yang positif mengandung parasit cacing. Berdasarkan hasil pengujian oleh BPOM, produk yang mengandung parasit cacing terdapat pada produk jadi dan bahan baku impor.

Baca :

BPOM memerintahkan untuk sementara waktu 16 merek produk jadi ikan kemasan kaleng impor dilarang masuk ke Indonesia dan 11 merek produk dalam negeri proses produksinya dihentikan sampai audit komprehensif selesai.

Sebelumnya, 26 pabrik pengalengan ikan disebut harus menghentikan operasionalnya akibat penarikan produk, usai beredar informasi keberadaan cacing pada produk ikan makarel kalengan. Akibatnya, ribuan pegawai di industri ini 'dirumahkan' hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Adapun 27 merek ikan makarel kalengan yang disebut BPOM, yakni Fiesta Seafood, ABC Mackerel, ABT, Ayam Brand, Botan, CIP, Dongwon, Dr. Fish, Farmerjack, Gaga, Hoki, Hosen, IO, Jojo, King's Fisher, LSC, Maya, Nago/Nagos, Naraya, Pesca, Poh Sung, Pronas, Ranesa, S&W, Sempio, TLC, dan TSC. (agi)

Subscribe to receive free email updates: