Kejatisu "Lepas" Mujianto Dengan Jaminan Rp3 Miliar

Detiknewsocean.comMedan (Sumut) ~ Tersangka penipuan dan penggelapan senilai Rp3 miliar, Mujianto alias Anam kembali menghirup udara bebas. Pasalnya, permohonan penangguhan penahanan pengusaha property yang sempat menjadi buronan Polda Sumut itu, dikabulkan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) dengan jaminan uang senilai Rp3 miliar.

Pantauan Sumut Pos di kantor Kejatisu, Mujianto diantar penyidik Polda Sumut sekira pukul 11.27 WIB. Namun, setelah diterima dan diperiksa intensif, Kejatisu menangguhkan penahanan Mujianto dengan jaminan uang Rp3 miliar. Sekira pukul 16.35 WIB, Miujianto keluar dari gedung Kejatisu lalu pergi menumpangi mobil Toyota Alphard yang telah menunggunya.

Kejatisu "Lepas" Mujianto Dengan Jaminan Rp3 Miliar
Tersangka penipuan dan penggelapan senilai Rp3 miliar saat menjalani pemeriksaan di Kejatisu, Kamis (26/07/18)/Sumutpos.

“Kami berkesimpulan dan sesuai dengan pendapat pimpinan, kita tidak melakukan penahanan terhadap kedua tersangka (Mujianto dan stafnya Rosihan Anwar, Red) dengan alasannya, tersangka Mujianto memberikan jaminan uang sebesar Rp3 miliar,” ucap Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejatisu, Sumanggar Siagian seperti dikutip dari Sumutpos.

Selain jaminan uang, Kejatisu juga menahan paspor Mujianto. Begitu juga dengan catatan rekam medis di Rumah Sakit Mount Elisabeth Singapura, tersangka Mujianto mengalami sakit infeksi empedu. Untuk tersangka Rosihan Anwar, kata Sumanggar, ditangguhkan dengan penjamin keluarga dan wajib lapor sekali seminggu. “Berkas kedua tersangka masih menunggu proses dari tim penyidik agar berkas kedua tersangka secepatnya bisa dilimpahkan ke pengadilan,” tandasnya.

Sebelumnya, Kejatisu menerbitkan dan mengrimkan P21 kasus dugaan penipuan senilai Rp3 miliar dengan tersangka Mujianto dan Rosian Anwar ke Penyidik Polda Sumut, Senin (7/5). Berdasarkan penelitian, berkas perkara itu dinyatakan memenuhi unsur formil dan materil sehingga layak disidangkan. Dalam kasus itu, pasal yang dijeratkan pada tersangka, adalah Pasal 378 subsidair Pasal 55 KUHPidana dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

Diketahui, Subdit II/Harda Bangtah Direktorat Reserse Kriminal Umun (Dit Reskrimum) Polda Sumut resmi menahan Mujianto dan Rosihan Anwar sebagai tersangka kasus dugaan penipuan senilai Rp3 miliar, Rabu (31/1). Beberapa hari berselang, penahanan Mujianto ditangguhkan penyidik dengan wajib lapor sambil menunggu berkas dinyatakan lengkap oleh kejaksaan.

Namun sejak ditangguhkan, Mujianto tidak pernah wajib lapor. Bahkan, ketika dipanggil untuk dimintai keteranganya melengkapi petunjuk jaksa, Ketua Yayasan Budha Tzu Chi itu tidak pernah datang. Kemudian, pada 7 April Mujianto resmi masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) atau buronan Polda Sumut.

Diketahui, Mujianto kabur ke Kuala Lumpur, sebelum akhirnya ke Singapura. Selanjutnya pada 19 April 2018 ia diketahui mengunjungi Bangkok dan Chiang Mai di Thailand.

Selanjutnya, pada 14 Juni 2018, Mujianto kembali masuk ke Singapura. Berselang 14 hari kemudian, tepatnya pada 28 Juni 2018, pengusaha property ini kembali ke Jakarta. Akhirnya pada 23 Juli 2018, ia ditangkap pihak Imigrasi Bandara Soekarno Hatta saat akan terbang ke Singapura.

Diketahui, Mujianto dilaporkan oleh Armen Lubis (60) pada 28 April 2017 dengan bukti laporan No; STTLP/509/IV/2017 SPKT “II”. Dalam kasus yang sama, Armen juga melaporkan stafnya Rosihan Anwar karena telah dirugikan sekitar Rp3 miliar.

Baca :

Kasus dugaan penipuan itu berawal dari ajakan kerja sama dari Rosihan Anwar, staf Mujianto, untuk melakukan bisnis penimbunan lahan seluas 1 hektare atau setara 28.905 meter kubik pada 2014. Lahan itu berada di Kampung Salam, Belawan II, Medan Belawan.

Namun setelah lahan selesai ditimbun, Mujianto tidak menepati janjinya untuk membayar hasil penimbunan itu sebesar Rp3 miliar. Kasus ini kemudian bergulir. Mujianto dan Rosihan kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada November 2017. (***)

Subscribe to receive free email updates: