Pagelaran Seni Lilin Menyala “Andung-andung TaoToba” di Taman Budaya Medan

Detiknewsocean.com, Medan (Sumut) ~ Para pegiat seni yang tergabung dalam Komunitas Seni Indonesia (KSI) Sumatera Utara menggelar doa bersama dan pagelaran seni, Sabtu (30/6) malam di Taman Budaya Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. Pagelaran ini sebagai wujud keprihatinan dan duka mendalam atas tenggelamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba Tigaras, Senin (18/6) yang menewaskan ratusan penumpang.

Komunita seni Indonesia yang terlibat di acara itu di antaranya Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Sumut, Persatuan Artis Sumatera Utara (Pasu), Ikatan Mahasiswa Kristen Angkola (IMKA), organisasi kepemudaan etnik seperti Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Simalungun (Himapsi), Komisariat USU, Sedana Etnik, Sihoda Pematangsiantar, Nature Batih, Gempar Indonesia, Persatuan Mahasiswa Etnomusikologi USU dan lainnya.

Ratusan lilin dinyalakan kaum muda insan seni Sumatera Utara, dalam sebuah aksi solidaritas dan doa untuk Danau Toba dan korban kapal Sinar Bangun, Sabtu (30/6) malam di lapangan parkir Taman Budaya,
Jalan Perintis Kemerdekaan Medan/Hariansib.
Pagelaran yang mereka tampilkan berupa andung-andung yang menggambarkan kepiluan hati seorang ibu, anak tunggalnya ikut hilang dalam kejadian itu. Kemudian ada puisi dan statemen keprihatinan yang di dalamnya ada terucap kejadian tersebut bisa disebabkan murka alam karena orang mencemari Danau Toba dengan sampah dan pellet makanan ikan keramba apung.

Ada juga statemen dan puisi mengatakan bahwa pihak-pihak tertentu sudah mengambil keuntungan dari Danau Toba, tapi bona pasogit tetap diabaikan. Keserakahan pemilik kapal serta kelalaian pemerintah juga masuk dalam narasi-narasi setiap pagelaran tari-tarian/tor tor maupun puisi. Setelah doa bersama yang dilaksanakan lewat hening cipta.

Di akhir pagelaran dilakukan penyalaan lilin yang dilakukan ratusan pemuda-pemudi dan menandatangani spanduk putih sebagai wujud keprihatinan terhadap peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun. Pembawa acara Roy Pasaribu dari Fakultas Ilmu Budaya USU dan Ojax Manalu mengatakan, dengan pagelaran ini, para keluarga korban yang menunggu jenazah orang yang dikasihi di Tigaras tidaklah sendiri. Karena mereka ikut berdoa semoga KM Sinar Bangun dan korban yang hilang segera ditemukan.

Pemerintah Mengabaikan Regulasi Pelayaran

Konsultas Rumah karya Indonesia Idris Pasaribu yang ikut berperan dalam pagelaran andung-andung Tao Toba tersebut mengatakan, Pemkab Samosir dan Pemprovsu, peristiwa tenggelamnya kapal kayu sudah sering terjadi di perairan Danau Toba. Hal itu disebabkan pemerintah setempat dan Pemprovsu mengabaikan regulasi tentang pelayaran.

Baca :

Untuk melayarkan kapal berkapasitas tonase 35 GWT, nakhodanya harus memiliki lisensi dan lulusan SMK pelayaran, sedangkan tonase 65 GWT nakhodanya memiliki lisensi dengan lulusan akademi pelayaran. "Regulasi sudah ada dari dulu, tapi tidak pernah dijalankan, kapal-kapal motor yang berlayar selama ini tidak standar, tidak ada istilah nakhoda, yang ada sebutan supir kapal," ucapnya saat dilansir dari Hariansib.

Menurut dia, kapal motor yang standar di perairan Danau Toba hanya KM Budaya yang bercorak gorga Batak. Kapal tersebut harganya Rp 400 juta dibuat dengan memakai mesin kapal asli. Sedangkan kapal yang banyak berlayar hanya bermesin mobil dijual sekitar Rp 20 juta.

"Jika kapal motor kapasitas penumpang 60 orang, pelampungnya harus lebih dari jumlah penumpang, kita harapkan kejadian ini membuat pemerintah tegas dengan regulasi pelayaran agar keselamatan berlayar terjamin," tuturnya. (***)

Subscribe to receive free email updates: