Tabur Bunga, Luhut: 59 Pelabuhan di Sekitar Danau Toba akan Ditertibkan

Detiknewsocean.com, (Sumut) ~ Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Pandjaitan menabur bunga di Danau Toba, Senin (2/7), sebagai bentuk keprihatinan atas tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Menko Maritim tiba di Pelabuhan Tigaras Kabupaten Simalungun sekira pukul 09.30 WIB, dengan menumpangi pesawat helikopter milik Basarnas. Kunjungan tersebut mendapat perhatian dari masyarakat, terutama keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Tabur Bunga, Luhut: 59 Pelabuhan di Sekitar Danau Toba akan Ditertibkan
Tabur Bunga: Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan bersama Kapoldasu Paulus Waterpauw, Bupati Simalungun JR Saragih melakukan tabur bunga di Perairan Danau Toba, Senin (2/7)/Hariansib.
Luhut Binsar Pandjaitan juga disambut Kepala Basarnas M Syaugi, Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan SAR Nugroho Budi W, Pangdam I/BB Mayjen TNI Ibnu Triwidodo, Kapoldasu Irjen Pol Paulus Waterpaw, Bupati Simalungun JR Saragih, Bupati Samosir Rapidin Simbolon, Bupati Toba Samosir Darwin Siagian, Bupati Karo Terkelin Brahmana, Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor dan lainnya.

Setelah berdialog dengan Tim SAR Basarnas dan sejumlah kepala daerah di pesisir Danau Toba beserta para keluarga korban, Menko Maritim beserta rombongan mengarungi perairan Danau Toba dengan menumpangi kapal Feri KMP II. Menko kemudian menabur bunga di sekitar lokasi karamnya KM Sinar Bangun.

Basarnas Tetap Bekerja

Saat berdialog bersama Menko Maritim, salah seorang keluarga korban, Lambok Silalahi meminta pencarian para korban tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun tidak dihentikan.

"Air mata kami belum kering, jadi mohon tidak dihentikan pencarian. Sampai kapan pun, kami tetap menunggu," ujarnya.

Menko Maritim Luhut B Pandjaitan pun mengapresiasi pertemuan dengan keluarga korban. Ia menyampaikan rasa duka yang dalam atas tragedi tersebut.

"Tadi ada permintaan untuk diperpanjang pencarian, kepada Tim Basarnas yang ada di sini akan diperkuat untuk melakukan upaya-upaya pencarian," sebut Luhut.

"Basarnas yang ada di Toba, itu akan bekerja dengan kekuatan dari Kepala Basarnas Jakarta," urainya.

Namun Luhut menjelaskan, untuk mengangkat korban dari kedalaman 450 meter bukan pekerjaan mudah, tapi diperlukan teknologi tinggi. "Kalau pun itu dilakukan, itu sangat membutuhkan waktu dan resiko," terangnya.

Ia juga memastikan, anak-anak yang ditinggalkan oleh para korban harus tetap bersekolah. Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan agar anak-anak tersebut diurus. "Semua anak-anak yang orangtuanya ada dalam kecelakaan itu, akan kami tanggung sekolahnya," jelasnya.

Tertibkan Kapal

Menko Luhut mengatakan, Dirjen Perhubungan Darat, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), polisi dan TNI akan bekerjasama dalam waktu 6 bulan ke depan untuk menertibkan perkapalan di sekitar Danau Toba.

Menurutnya, selama ini ada 6 pelabuhan resmi di sekitar Danau Toba yang tidak dikelola dengan baik. Namun ia tidak ingin menyalahkan siapa-siapa terkait tragedi kapal KM Sinar Bangun. Menurutnya, ketidakdisiplinanlah yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Untuk ke depan perlu perbaikan.

"Jadi harus ada manifest, harus ada KIR dari kapal dan sekarang sedang berjalan. Tadi Bupati Samosir melaporkan, ada 59 pelabuhan. Itupun akan kita tertibkan," ujarnya.

Kunjungan Turis Naik

Luhut B Pandjaitan menjelaskan, pembangunan infrastruktur di kawasan Danau Toba berjalan lebih cepat dari yang diduga. Dampaknya, jumlah pengunjung meningkat drastis ke daerah pariwisata Danau Toba.

Peningkatan jumlah turis juga efek dari beroperasinya Bandara Silangit, jalan tol Medan-Tebingtinggi dan pembangunan jalan lingkar Samosir.

"Jumlah turis yang masuk, tiga kali lebih daripada tahun lalu," sebutnya.

Ditambahkan, sebanyak 4 kapal feri sedang diupayakan untuk beroperasi di Danau Toba. Satu unit kapal tersebut selesai dikerjakan Oktober 2018 mendatang. Tiga lagi kapal feri akan selesai tahun depan. Pembuatan kapal feri tersebut dinilai kalah cepat dengan musibah tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun.

"Tapi di sisi lain, kami juga harus mengakui bahwa ada keterlambatan kita dalam pembangunan feri, walaupun sebenarnya feri yang pertama sudah selesai pada Oktober tahun ini. Kemudian disusul feri kedua, ketiga, keempat tahun depan. Tapi ternyata kita kalah cepat," terangnya.

Luhut juga berharap kerjasama dengan masyarakat. Para pemilik kapal harus patuh terhadap aturan. Muatan kapal diingatkan tidak melebihi kapasitas.

Angkat Bicara

Sementara itu, aktivis organisasi sosial, Ratna Sarumpaet tiba-tiba angkat bicara saat rapat antara Menko Maritim dengan Tim SAR Basarnas bersama sejumlah kepala daerah di Posko Gabungan SAR Pelabuhan Tigaras, Senin (2/7). Ratna tidak menghendaki proses pencarian korban kapal KM Sinar Bangun dihentikan.

Aksinya itu cukup mengejutkan para petinggi pemerintahan tersebut. Menko Maritim bahkan menyarankan agar aspirasi Ratna disampaikan setelah rapat.

Namun suasana makin bersitegang. Ratna justru sempat menyampaikan uneg-unegnya.

"(Pencarian korban) Ini tidak boleh dihentikan. Ini persoalan kemanusiaan. Ini persoalan Tapanuli. Semua mayat harus diangkat, jangan dihentikan," tegas Ratna.

Setelah menyampaikan aspirasinya, Ratna Sarumpaet keluar dari posko. Menko Maritim selanjutnya berdialog bersama keluarga korban.

3 Minggu

Sementara itu, pencarian korban KM Sinar Bangun akan dihentikan. Pasalnya robot yang akan didatangkan dari Singapura untuk mengevakuasi para korban KM Sinar Bangun menghabiskan waktu sekitar 3 minggu. Sehingga pihaknya memutuskan untuk memberhentikan pencarian secara nasional, Selasa (3/7). Hal itu diutarakan Kasubbag Hubungan Antar Media Basarnas M Yusuf Latif ketika diwawancarai SIB, Senin (2/7) di Pelabuhan Tigaras.

M Yusuf menuturkan pencarian tidak akan dihentikan secara total. Namun pihaknya akan tetap melakukan pengawasan dan monitoring. "Jadi tetap berlanjut, karena di Undang-undang kami, setelah ditutupnya operasi ini, masih ada patroli kelanjutan", kata Yusuf.

Dia juga menambahkan pihaknya sudah sepakat dengan Bupati Simalungun bahwa ini tetap berlanjut, dan Bupati mengatakan, dirinya akan berkoordinasi dengan camat, pangulu dan Basarnas. Apabila ada temuan jasad korban, akan dikoordinasikan dengan Polda untuk diidentifikasi, ujarnya.

M Yusuf juga mengaku para keluarga korban sudah sepakat dan mereka ingin dibangun satu monumen di sekitar pelabuhan untuk mengenang keluarga mereka yang terkena musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun.

Ditambahkan Yusuf, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, untuk mengevakuasi para korban akan didatangkan robot dari Singapura. Namun setelah dikonfirmasi ulang dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), bahwa kalau robot yang akan didatangkan dari Singapura butuh waktu yang cukup lama. "Bisa sampai 3-4 minggu. Belum lagi mengatur sistemnya, karena harus terpasang dulu semuanya baru bisa digunakan. Jadi sangat lama prosesnya, sehingga kami tidak jadi mendatangkan robot tersebut," kata Yusuf.

Namun demikian, Yusuf mengaku pihaknya akan tetap berupaya semaksimal mungkin agar para korban KM Sinar Bangun bisa ditemukan. "Memang pencarian akan diberhentikan secara resmi, tapi Basarnas Parapat akan tetap melakukan patroli setiap harinya," ungkap Yusuf.

Kecewa

Masyarakat Terkait penghentian pencarian, masyarakat Simalungun kecewa terhadap pemerintah. Pasalnya, foto-foto yang diduga jasad korban KM Sinar Bangun sudah terekam ROV, dan sudah dilihat masyarakat Indonesia.

"Kita sebagai masyarakat, yang turut prihatin atas kejadian itu, sangat kecewa. Karena, foto korban sudah terlihat di dasar danau melalui rekaman ROV. Malah, dihentikan pencariannya. Kita sangat kesal ya," kata seorang warga, Erick Simarmata, seperti dilansir dari Hariansib, Senin (2/7) di Saribudolok.

Menurutnya, pencarian dan evakuasi harus tetap dilakukan sampai membuahkan hasil, karena foto-foto korban dan sepedamotor di dasar danau, sudah disaksikan jutaan rakyat Indonesia, bahkan keluarga korban. Jadi, harus terus dilakukan proses pencarian dan evakuasi sampai berhasil.

"Malu kita sama negara lain, kalau itu dihentikan. Sebab, foto korban sudah terlihat. Justru, akan dihentikan pencariannya. Tidak logika ya. Itu menunjukkan kebodohan kepada masyarakat," kata Erick.

"Kalau memang tim SAR Indonesia tidak sanggup, kan bisa minta bantuan luar negeri. Apa salahnya. Karena itu tadi, foto korban sudah terlihat, malah dihentikan pencarian," tambahnya.

Hal sama juga dikatakan Frinston Sijabat, Hendri Manurung, Parman Girsang dan warga lainnya secara terpisah. Menurut mereka, karena foto korban sudah ditemukan di dasar danau, harus diangkat ke permukaan.

Baca :

"Itu manusia. Jadi, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Minta bantuan luar negeri yang mampu mengevakuasi korban dari dasar Danau Toba. Tapi, kalau luar negeri pun tidak mampu, berarti sudah di luar batas kemampuan manusia. Tapi dicoba dulu," kata Friston.

Terkait secara nasional proses pencarian dihentikan tetapi secara domestik masih ada kabupaten dan proses berlanjut, menurut warga, itu tidak berguna.

"Secara nasional saja belum berhasil, apa lagi domestik. Tentu, tak bermanfaat. Intinya, korban harus dievakuasi, karena posisinya sudah terlihat. Kalau dibiarkan begitu saja, wisatawan enggan berkunjung ke Danau Toba," kata warga itu. (***)

Subscribe to receive free email updates: