Kerap Makan Korban, Polda Kepri Komit Berantas PTI Ilegal

Detiknewsocean.com, Batam (Kepri) ~ Polda Kepri berkomitmen memberantas kasus Penempatan Tenaga Imigran (PTI), ataupun pengiriman Tanaga Kerja Indonesia (TKI) secara illegal keluar negeri yang kerap memakan korban.

Direskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Hernowo YUlianto mengatakan, terungkapnya kasus traffiking dengan tersangka Kasih dan Oyon, menjadi atensi bagi pimpinan (Bapak Kapolda) sebagai upaya menjalankan amanat Presiden Jokowi.

Kerap Makan Korban, Polda Kepri Komit Berantas PTI Ilegal
Ilustrasi

"Artinya, sekecil apapun kasus perdagangan orang atau Penempatan Tenaga Imigran (TKI) secara ilegal keluar negeri, akan kami tumpas sehingga keakar-akarnya," tegas Hernowo ke Haluan Kepri, Kamis (6/9).

Begitu juga dengan hal yang dilakukan oleh tersangka Kasih dan Oyon, sebutnya, disangkakan sebagai sebuah jaringan penempatan TKI secara ilegal, sehingga jadi incaran kepolisian untuk dapat membongkarnya hingga tuntas.

"Kasus Kasih dan Oyon ini menjadi pintu masuk bagi kepolisian, disamping kasus kasus TKI ilegal lainnya. Sebab mereka ini memiliki banyak peran serta bekerja secara parsial. Ada yang bertugas sebagai perekrut dari daerah asal, ada yang bertugas sebagai pengurus dokumen, ada sebagai penyedia alat transportasi, ada yang bertugas sebagai penampung di Batam, dan yang bertugas sebagai pengantar, dan penempatan di Malaysia," papar Kombes Hernowo.

Menurut Hernowo, pengungkapan kasus traffiking tersebut terus dikembangkan, untuk dapat mengungkap siapa dalang, maupun pelaku utamanya.

"Artinya, ketika proses penyelidikan kasus ini terputus, maka akan sulit untuk diungkap secara tuntas. Makanya kasus traffiking, atau penempatan tenaga kerja imigran keluar negeri secara ilegal, akan kita kembangkan hingga tuntas," papar Dirreskrimum Polda Kepri ini.

Dalam kesempatan itu, Hernowo mengajak seluruh jajarannya, institusi pemerintah, masyarakat, beserta awak media, untuk selalu bisa menjaga kondusifitas Wilayah Kepri, sebagai daerah serambi NKRI.

"Baik itu dari tindak kriminalitas perdagangan orang, penempatan tenaga kerja imigran secara ilegal, penyelundupan narkotika, perompakan, Sara, dan tindakan terorisme di lintas negara. Sehingga pertumbuhan ekonomi Kota Batam, dan Kepri akan menjadi lebih baik," pungkasnya.

Menanggapi komitmen dari Kapolda Kepri tersebut, kuasa hukum Kasih serta Oyon sebagai tersangka kasus penempatan tenaga kerja imigran secara ilegal, Ahmad Suhardi dan Sukardin mengungkapkan, pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung Kapolda Kepri untuk serius mengungkap kasus penempatan tenaga kerja imigran ilegal tersebut secara keseluruhan dan tuntas.

"Artinya, kalau memang serius dan berkomitmen, mari dibongkar semua, dan tidak ada tembang pilih. Sehingga kedepannya tidak ada lagi kasus "Kasih Kasih" yang lain, yang dibekingi oleh oknum oknum aparat," kata Sukardin, Kamis (6/9), di Mapolda Kepri.

Sebab, ungkapnya, memang kita harus dapat melindungi setiap orang dari tenaga imigran Indonesia yang bekerja keluar negeri, sehingga mereka tak lagi menjadi korban oleh oknum oknum yang bersangkutan.

"Kami sangat sepakat dengan itu. Tapi, jangan sampai ada tembang pilih sehingga apa yang disampaikan ini hanya sebuah fatamorgana. Bahkan, bila perlu si Kasih dijadikan justice colaborator, untuk pintu masuk untuk membongkar semua jaringan jaringannya," papar Sukardin.

Terkait penanganan kasus klien kami (Kasih dan Oyon), ucap Sukardin, kepolisian masih bertahan dengan menetapkan keduanya dengan ada sangkaan penempatan tenaga kerja imigran secara ilegal, dengan penerapan di Pasal 81, tentang perlindungan pekerja imigran, dan Pasal 83, dengan ancaman kurungan penjara selama 10 tahun, serta denda sebesar 15 miliar.

"Sebenarnya, kami keberatan dengan penerapan Pasal 81 dan Pasal 83 ini. Karena polisi harus membuktikan terlebih dahulu kalau si Kasih, dan si Oyon ini benar sebagai pelaku PTI atau pengiriman TKI secara ilegal," papar Sukardin.

Sebab, ungkapnya, keterangan yang kami dapat keduanya hanya sebagai penyedia transporter secara umum. Bahkan, barang bukti yang didapatkan oleh kepolisian itu hanya berupa sebuah jangkar, dan sebuah mobil yang mereka punya.

Bahkan, ungkap Sukardin, ketika penangkapan klien kami itu tidak ada pekerja imigran yang sedang diantarkan oleh Kasih dan Oyon, dari wilayah Pulau Galang tersebut.

Baca :

"Namun, ini baru ada dugaan bahwa mereka ini sebagai jaringan penempatan tenaga imigran keluar negari. Makanya, apa yang sudah dilakukan kepolisian sangat kita hargai, serta hormati sebagai upaya penegakan hukum. Akan tetapi tentunya semua itu harus sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku," imbuhnya.

Begitu pula dengan tudingan mereka itu sebuah jaringan."Artinya, kalau memang mereka berdua ini adalah sebuah jaringan, tentu harus ada kepala, badan, serta kaki kakinya. Sehingga harus bisa dibongkar semua biar tuntas, termasuk dengan aparat aparat penegak hukum yang melindunginya. Sebab kami juga mempunyai data. Kami akan bantu, dan akan kami beberkan semuanya didalam persidangan nantinya," pungkas. (Red)

Subscribe to receive free email updates: