4 Terdakwa WN China Penyelundup Sabu di Batam Divonis Mati

Detiknewsocean.com, Batam (Kepri) ~ Empat terdakwa kasus yang menyelundupkan 1,6 ton sabu ke Batam, Kepri, WNA asal China yang beberapa waktu lalu divonis mati dalam persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (29/11). Mereka yakni Chen Hui, Chen Yi, Chan Meisheng, Dan Yao Yin Fa

Adapun sidang tersebut dipimpin oleh Majelis ketua Hakim, Muhammad Chandra dan didampingi dua anggota Mejelis Hakim Redite Ika Septina dan Yona Lamerosaa Ketaren. Sementara Jaksa Rumondang Manurung dan Samsul Sitinjak bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU).

4 Terdakwa WNA China Penyelundup Sabu di Batam Divonis Mati
Sidang vonis 4 WN China penyelundup 1,6 ton sabu di Batam, saat mendengarkan vonis majelis hakim di Pengadilan Negeri Batam.

Hakim Ketua M Chandra memutuskan bahwa keempat terdakwa yakni Chen Hui, Chen Yi, Chen Meisheng dan Yao Yin Fa terbukti bersalah melakukan tindak pidana permufakatan jahat menjadi perantara jual beli narkoba jenis sabu dalam jumlah yang besar sebagaimana dakwaan primer yang sebelumnya dibacakan jaksa penuntut umum saat tuntutan.

Keempat terdakwa tersebut diyakini terbukti bersalah terkait penyeludupan sabu 1,6 ton yang ditangkap tim gabungan dari Direktorat Tindak Pidana Narkotika Bareskrim Polri dan Bea dan Cukai Batam menggunakan kapal MIN LIAN YI YUN 61870 saat patroli di perairan Kepulauan Riau, Februari 2018 lalu.

Atas perbuatannya, mereka telah melanggar pasal 114 ayat (2) Jo pasal 132 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika sehingga empat terdakwa di vonis hukuman mati. "Dengan ini, atas perbuatannya, kepada masing-masing terdakwa dijatuhi hukuman mati, " ujar Muhammad Chandra.

Putusan ini dibacakan dalam sidang putusan kasus penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu sebanyak 1,6 ton hasil tangkapan Mabes Polri dan Bea Cukai di Perairan Karang Banteng Anambas pada Februari lalu.

Majelis hakim mengatakan perbuatan terdakwa membuat nama baik Indonesia menjadi buruk di internasional. Negara lain akan beranggapan bahwa Indonesia merupakan negara empuk untuk peredaran narkotika.

Atas vonis putusan pidana mati, keempat terdakwa masih memiliki kesempatan mengajukan banding serta upaya hukum lainnya yakni kasasi selama seminggu setelah vonis dibacakan.

Usai hakim vonis hukuman mati keempat terdakwa tersebut, Meisheng salah satu dari empat terdakwa berbicara keras karena tidak terima vonis hukuman mati. "Polisi membuat bukti palsu, orang Indonesia mencelakai, menipu orang Cina, " ujar Meisheng saat diterjemah penerjemah bahasa yang berada di persidangan.

Bahkan saat dikawal keluar dari ruang sidang, Meisheng tidak berhentinya berteriak teriak hingga masuk kedalam mobil tahanan kejaksaan Negeri Batam sembari menunjuk-nunjukkan jarinya kepada awak media. Belum diketahui keempat terdakwa ini akan mengajukan banding atau tidak, sebab saat pembacaan putusan, penasehat hukumnya (PH) tidak hadir untuk mendampingi.

Putusan tersebut sesuai dengan tuntutan yang dibacakan secara bergantian oleh JPU Daru Trisadono, Hermanto, Dedie Tri Hariyadi, Lutfi Akbar, Asnath Anytha Idatua Hutagalung, Raden Rara Putri Ayu, Tumpal Seben Ezer, dan Kasipidum Kejari Batam, Filpan FD Laia menuntut kepada terdakwa hukuman maksimal yakni berupa hukuman mati.

Kepada keempat terdakwa, JPU Filpan membacakan tuntutan hukuman yang maksimal yakni hukuman mati. Keempat terdakwa dijerat dengan dakwaan primer pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, dakwaan subsider pasal 113 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 209 tentang narkotika, serta dakwaan lebih subsider pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

“Berdasarkan seluruh keterangan saksi yang dihadirkan, berikut keterangan saksi ahli, semua menyatakan perbuatan terdakwa terbukti bersalah. Dalam persidangan terungkap adanya alasan pemaaf atau pembenar. Begitu juga dengan analisa fakta persidangan, serta dukungan barang bukti dan saksi serta saksi ahli.,” ujar JPU saat tuntutan.

Baca :

Perbuatan keempat terdakdwa, mengakibatkan nama negara Indonesia menjadi buruk citranya di dunia internasional. Seolah-olah Indonesia jadi lahan empuk peredaran narkotika. Selama persidangan, keempat terdakwa juga tak mengakui perbuatannya menyelundupkan atau membawa 1 ton lebih sabu-sabu masuk ke Indonesia, serta keterangannya berbelit-belit menyusahkan majelis hakim.

“Untuk hal yang meringankan terdakwa, tidak ada. Terdakwa sendiri terbukti membawa atau menyelundupkan masuk narkotika jenis sabu-sabu sebanyak 1 ton 37 gram ke wilayah Indonesia dengan melawan hukum, yakni membawa narkotika melebihi 5 gram,’ terang Filpan sebelumnya. (Red)

Subscribe to receive free email updates: