Harga Minyak Anjlok 2 % pada Pidato Trump di Sidang Majelis PBB

Presiden AS Donald Trump berpidato pada pertemuan PBB. Dalam pidatonya, Trump menegaskan tidak akan menerima tawaran buruk dari kesepakatan dagang dengan China, yang mengindikasikan perang dagang semakin runcing. Akibatnya, harga minyak anjlok 2 persen. (nationalreview/Justin Sullivan/Getty).

Kepri, Detiknewsocean.com ~ Harga minyak mentah dunia jatuh 2 persen pada perdagangan Selasa (25/9). Pasar kembali khawatir dengan kesepakatan perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan China setelah Presiden AS Donald Trump berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum PBB.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,3 persen ke level US$57,29 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka Brent terkoreksi lebih dalam sebesar 2,6 persen menjadi US$63,1 per barel.

Dalam pidatonya, Trump menuduh China melakukan praktik perdagangan tidak adil. Bukan hanya itu, China juga disebut-sebut memanipulasi mata uang yuan dan mencuri hak kekayaan intelektual.

"Semoga kami bisa mencapai kesepakatan yang bermanfaat bagi kedua negara, seperti yang sudah saya jelaskan, saya tidak akan menerima tawaran buruk," tegas Trump, dikutip Rabu (25/9).

Sementara, Mitra di Again Capital LLC John Kilduff menilai Trump seolah memulai lagi perang dagang dengan China. Pernyataannya tak terkesan ingin menyelesaikan persoalannya dengan Negeri Tirai Bambu tersebut, sehingga harga minyak terkena dampak negatif.

Senada, Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York mengatakan Trump membuat pasar minyak semakin suram. Sikap Trump dianggap bisa mempengaruhi permintaan minyak dalam waktu mendatang.

Selain itu, beberapa analis berpendapat sejumlah data ekonomi yang lesu di Eropa dan Jepang juga membebani harga minyak mentah dunia.

Ditambah, sebuah laporan dari perusahaan swasta menunjukkan kepercayaan konsumen AS turun paling besar dalam pada September 2019.

"Kami terus melihat permintaan minyak revisi terus menerus. Dengan berlanjutnya pertumbuhan produksi AS dan produksi baru di Norwegia dan Brasil, pasar merasa kelebihan pasokan," ucap Andy Lipow, Preesiden Lipow Oil Associates di Houston, melansir dari CNN Kamis (26/09/19).


Lihat juga:


(DNO/CNN/aud/bir)

Subscribe to receive free email updates: