Mengenal Ciri Dermatitis Atopik, Penyakit Kulit Kronis Keturunan Seumur Hidup

Mengenal Ciri Dermatitis Atopik, Penyakit Kulit Kronis Keturunan Seumur Hidup
Ilustrasi Dermatitis Atopik (DA). ©the-dermatologist.com

Detiknewsocean.com
~
 Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis yang membuat kulit meradang, gatal, kering, dan pecah-pecah. Kondisi ini biasanya menyerang kulit kepala, dahi dan wajah terutama pipi. 

Dermatitis atopik merupakan penyakit yang lebih dikenal dengan nama eksim atau eksim atopik. Penyakit kulit ini dapat menyebabkan gatal-gatal parah yang dapat mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari.

Oleh karenanya, penting untuk mencari pertolongan medis untuk mencegah gejala semakin memburuk. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun perawatan yang tepat bisa membantu mengendalikan dan meringankan gejalanya.

Gangguan kulit yang tidak ditangani dengan baik akan mengganggu kualitas hidup. Salah satunya adalah dermatitis atopik (DA) yang bisa bertahan seumur hidup dalam tubuh pengidapnya.

DA merupakan penyakit kulit kronis yang menimbulkan peradangan pada kulit, rasa gatal, serta kulit kering dan pecah-pecah. Kerap pula dikenal dengan istilah eksim atopik, penyakit ini dapat menimbulkan gatal-gatal parah yang dapat mengganggu tidur dan aktivitas harian.

Karena termasuk penyakit kronis, tak ada kata sembuh bagi pengidap DA. Penyakit bisa kambuh berulang jika ditemukan adanya pemicu.

"Kita tidak bisa memakai kata sembuh, biasanya pakai kata 'terkontrol'. Penyakit ini masih bisa kambuh akibat faktor pemicu," ujar ahli kesehatan kulit, Anthony Handoko dalam temu media di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (14/4).

Sederet faktor bisa memicu kambuhnya DA. Faktor-faktor ini bisa saling berbeda pada setiap pasien. Sebut saja daya tahan tubuh yang menurun, debu, bulu hewan, cuaca terlalu panas atau terlalu dingin, gigitan serangga, zat iritan, dan stres.

Anthony mengatakan, DA umumnya timbul akibat faktor genetik. Artinya, penyakit dibawa atau diturunkan oleh orang tua pasien.

"Biasanya, gejala [awal] DA timbul pada bayi dan anak-anak usia 1-5 tahun," ujar Anthony. Berdasarkan penelitian, lanjutnya, gejala yang timbul pada usia 3-11 tahun memungkinkan pasien mengidap DA seumur hidupnya.

Karena sifatnya yang bertahan seumur hidup, pengobatan pada pasien DA tak bertujuan untuk memusnahkan penyakit. "Tapi mengatasi gejala yang timbul saat kambuh," kata Anthony.

Tak semua pasien DA mendapatkan pengobatan yang sama. Pengobatan akan bergantung pada gejala dan kondisi pasien. Beberapa jenis pengobatan yang umum digunakan di antaranya obat oles, obat oral, dan phototherapy. Pengobatan oles adalah yang paling banyak dipakai.

Sedangkan pengobatan oral umumnya diberikan saat gejala yang muncul disertai infeksi. Beberapa obat oral juga diberikan untuk mengurangi rasa gatal dan memperkuat daya tahan tubuh.

Anthony mengimbau agar orang tua waspada gejala DA sedini mungkin. "Saat anak merasa gatal yang cukup serius, maka [anak] layak dibawa ke dokter," katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat prevalensi DA pada anak sebesar 15-30 persen pada 2018. Sedangkan di Indonesia, 2 juta kasus DA ditemukan setiap tahunnya.

Lihat juga:

(DNO/Cnn/els/asr)

Subscribe to receive free email updates: