Pelemahan Didominasi Sentimen Eksternal, Tekan Rupiah ke Rp14.172 per Dolar AS

Ilustrasi. Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.172 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (27/9) sore.

Jakarta, Detiknewsocean.com ~ Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.172 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (27/9) sore. Posisi ini melemah 0,16 persen dibanding penutupan kurs rupiah pada Kamis (26/9), Rp14.165 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.197 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.162 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp14.171 per dolar AS hingga Rp14.198 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, baht Thailand menguat 0,01 persen, yuan China 0,13 persen, ringgit Malaysia 0,16 persen, rupee India 0,19 persen, dan peso Filipina 0,51 persen.

Sementara itu, terdapat mata uang yang melemah terhadap dolar AS seperti dolar Singapura sebesar 0,01 persen, dolar Hong Kong 0,03 persen, yen Jepang 0,04 persen, dan won Korea Selatan 0,1 persen.

Selanjutnya, mata uang negara maju seperti poundsterling Inggris melemah 0,27 persen terhadap dolar AS. Namun, kurs dolar Australia menguat 0,2 persen dan euro menguat 0,05 persen terhadap dolar AS.

Melansir dari CNNIndonesia, Jumat (27/09/19), Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih didominasi sentimen eksternal.

Tadinya, pelaku pasar mengantisipasi angka final pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II 2019. Namun, angka tersebut ternyata tidak berubah dari rilis sebelumnya yakni 2 persen sehingga ada kemungkinan bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) tidak akan melonggarkan suku bunganya kembali.

Kemudian, optimisme akan ekonomi AS meningkat setelah diplomat China mengatakan bahwa negara tirai bambu itu bersedia membeli lebih banyak barang buatan AS. Bahkan, hasil diskusi antara AS dan China bisa lebih baik jika kedua negara benar-benar antusias terkait hal tersebut.

"Washington pun disebut China telah menunjukkan itikad baik dengan mengurangi tarif pada berbagai produk China," jelas Ibrahim, Jumat (27/9).

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen datang setelah Asian Development Bank (ADB) merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 dari 5,2 persen menjadi 5,1 persen. Hal ini diperparah dengan kebutuhan dolar yang meningkat karena berbagai aktivitas korporasi.

"September adalah akhir kuartal III di mana banyak perusahaan baik yang listing (terdaftar) di bursa maupun lainnya harus membayar dividen dan membayar utang jangka pendek sehingga wajar kalau kebutuhan dolar AS kembali tinggi," ungkap dia.

Lihat juga:
China Resmi Buka Bandara Internasional Baru 'Daxing' Senilai Rp 882 Triliun
Status HTI, Jokowi Cabut Lahan Sukanto Tanoto di Ibu Kota Baru Oktober
The Fed Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan Dana Federal 25 Bps
Aset Negara Segera Ditawarkan ke Swasta atas Pemindahan Ibu Kota
RAPBN 2020, Pemerintah Beri Modal PT Geo Dipa Energi Rp 700 M Bangun Proyek Listrik
Menteri ATR Batalkan Rencana Pajak Progresif Tanah pada MasyarakatBPR Satya Mitra Andalan

(CNNIndonesia/glh/sfr)

Subscribe to receive free email updates: