Demo Rusuh "Rupiah Tertekan" Melemah Dekati Hingga Rp14.200 per Dolar AS

Demo Rusuh "Rupiah Tertekan" Melemah Dekati Hingga Rp14.200 per Dolar AS
Ilustrasi dolar AS dan rupiah. (Photo: uangindonesia)

Jakarta, Detiknewsocean.com ~ Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.216 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (1/10) sore. Posisi ini melemah 0,14 persen dibandingkan penutupan pada Senin (30/9), yakni Rp14.195 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.196 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin, yakni Rp14.174 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.188 hingga Rp14.218 per dolar AS.

Sore hari ini, seluruh mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, peso Filipina melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia melemah 0,2 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,23 persen.

Kemudian, baht Thailand melemah 0,25 persen, rupee India melemah 0,26 persen, dolar Singapura melemah 0,33 persen, yen Jepang melemah 0,34 persen, dan yuan China melemah 0,36 persen.

Mata uang negara maju, seperti poundsterling Inggris tidak bergerak melawan dolar AS. Namun, euro dan dolar Australia masing-masing melemah sebesar 0,05 persen dan 0,79 persen terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah digempur dari sentimen eksternal dan juga internal.

Dari sisi luar negeri, inflasi tahunan di Jerman melambat ke level terendah dalam hampir tiga tahun terakhir, sehingga menegaskan bahwa kekuatan ekonomi terbesar Eropa ini tidak menunjukkan pemulihan ekonomi.

Padahal, bank sentral Eropa (ECB) telah mengeluarkan putaran baru langkah-langkah pelonggaran moneter pada 12 September lalu. Tetapi ada kekhawatiran bahwa bank sentral mencapai batas-batas maksimalnya dan beban akan jatuh ke pemerintah zona euro untuk meningkatkan pengeluaran fiskal.

Alhasil, permintaan euro berkurang dan meningkatkan permintaan dolar AS. Hal ini juga diperkuat dengan indeks manufaktur AS yang kian menguat.

Selain itu, pelaku pasar mulai melihat tanda-tanda krisis dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau disebut Brexit. Perdana Menteri Boris Johnson akan mengirimkan rencananya secara rinci untuk menghindari perbatasan keras (hard border) di Irlandia Utara. "Rencana itu melibatkan serangkaian pusat bea cukai yang terletak beberapa mil dari perbatasan," jelas Ibrahim, mengutip Detiknewsocean.com dari CNNIndonesia, Selasa (1/10/19).

Sementara itu, dari dalam negeri, gelombang demo terkait sikap anggota DPR RI seolah-olah tak berhenti selama sepekan.

"Situasi politik-sosial-keamanan yang masih penuh tanda tanya dan bisa memanas kapan saja kemungkinan membuat investor menahan diri. Kalau kondisi semakin dirasa tidak aman, maka ada risiko arus modal asing berbalik keluar sehingga rupiah bakal tertekan lagi," papar dia.

Lihat juga:

(CNN/glh/bir)

Subscribe to receive free email updates: