"Hari Pneumonia Sedunia" Penyakit Paru Mematikan Intai Balita, Berikut Gejalanya

"Hari Pneumonia Sedunia" Penyakit Paru Mematikan Intai Balita, Berikut Gejalanya
Ilustrasi. Pneumonia menjadi salah satu 'pembunuh' anak terbesar di dunia. Photo: Antara//Saiful Bahri/)

Detiknewsocean.com
|
Hari Pneumonia Sedunia diperingati saban tahun pada setiap 12 November. Pneumonia merupakan salah satu 'pembunuh' anak terbesar di dunia.

Pada tahun ini, banyak pakar kesehatan yang memperhatikan banyaknya anak-anak yang terkena penyakit yang juga disebut sebagai infeksi paru-paru ini. Hal ini dikarenakan ada banyak balita yang harus meregang nyawa karena penyakit mengerikan ini.

Pakar kesehatan menyebutkan jika banyak orang tua yang menganggap sepele gejala awal dari pneumonia. Padahal, andai anak mengalami batuk-batuk atau masalah pernafasan, ada baiknya orang tua segera memeriksakannya ke dokter karena bisa saja ini adalah tanda awal dari pneumonia.

Merilis Detiknewsocean.com dari CNN, sekitar 800 ribu anak di dunia meninggal akibat pneumonia. Hampir sebanyak 2.200 anak meninggal pada setiap harinya.

Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan 437 ribu balita yang meninggal akibat diare dan 272 ribu akibat malaria pada 2018 lalu.

"Komitmen global yang kuat sangat penting untuk memerangi penyakit ini," ujar Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, melansir AFP. Intervensi perlindungan, pencegahan, dan pengobatan yang lebih baik dan hemat biaya dapat menyelamatkan jutaan nyawa anak.

Lima negara menjadi penyumbang terbesar angka kematian pada anak akibat pneumonia. Nigeria mencatat 162 ribu kematian anak akibat pneumonia, diikuti oleh India (127 ribu), Pakistan (58 ribu), Kongo (40 ribu), dan Ethiopia (32 ribu).

Pneumonia merupakan penyakit akibat bakteri, virus, atau jamur yang menyerang organ paru-paru. Pasien akan mengalami kesulitan bernapas saat paru-paru penuh dengan nanah dan cairan.

Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan tinggal di daerah dengan tingkat polusi udara tinggi adalah kelompok yang paling berisiko.

Mengutip  juga dari laman Dokter Sehat, Selasa (12/11/19), biasanya pneumonia akan diawali oleh masalah infeksi pada hidung dan tenggorokan yang mirip layaknya gejala pilek dan nyeri pada tenggorokan.

Setelah itu, dalam waktu dua hingga tiga hari saja, infeksi ini akan berlanjut ke paru-paru anak.

Mengingat banyak balita yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang benar-benar kuat, maka infeksi ini bisa menjadi semakin parah dan pada akhirnya menghambat saluran pernafasan.

Andai orang tua menemukan anaknya tiba-tiba saja terlihat lemas dan tidak aktif layaknya anak seperti biasanya, mengalami tubuh menggigil, demam, dan nafasnya cenderung sangat cepat. Segera larikan anak ke dokter atau rumah sakit terdekat karena dikhawatirkan Ia sudah terkena gejala pneumonia.

Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin dan mudah diobati dengan antibiotik jika didiagnosis secara tepat.

"Ini adalah epidemi global yang terlupakan," ujar Kepala Eksekutif Save the Children Inggris, Kevin Watkins.

Watkins mengatakan, jutaan anak sekarat karena kekurangan vaksin, antibiotik yang terjangkau, dan oksigen.

Pada Januari mendatang, UNICEF dan sejumlah lembaga lainnya akan menggelar forum global pertama di dunia tentang pneumonia pada anak di Spanyol.

Lihat juga:

(CNN/asr/asr)
Editor: Rianto

Subscribe to receive free email updates: