Ketahui Penyakit yang Tidak Perlu Pakai Antibiotik dan yang Perlu

Ketahui Penyakit yang Tidak Perlu Pakai Antibiotik dan yang Perlu
Ilustrasi. Salah penggunaan antibiotik akan menyebabkan resistensi yang dapat memperparah penyakit hingga kematian.(ConvenientMD Urgent Care/convenientmd)

Detiknewsocean.com | Antibiotika adalah segolongan molekul, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia pada organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri.

Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman.

Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah molekul bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan dalam hal cara kerjanya, yaitu desinfektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Penggunaan antibiotika yang 'tidak lengkap' dapat membuka peluang munculnya tipe bakteri yang 'kebal'. Oleh karena itu, seseorang diarahkan untuk menghabiskan satu dosis lengkap antibiotika walaupun kondisi sudah tampak membaik meski baru menghabiskan setengah pengobatan.

Antibiotik juga sering kali dianggap sebagai 'obat dewa' yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Namun, tidak semua penyakit harus menggunakan antibiotik. Antibiotik perlu digunakan pada kondisi penyakit tertentu saja.

Kesalahan dalam penggunaan antibiotik dapat menyebabkan resistensi antibiotik yang berakibat memperparah penyakit, kecacatan, hingga kematian.

"Antibiotik harus digunakan secara bijak. Jadi, jangan minum kalau tidak ada indikasi," ujar Ketua Komite Pencegahan Resistensi Antimikroba Nasional, Hari Paraton dalam konferensi pers Peringatan Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia atau World Antibiotik Awareness Week di RS UI, Depok, Kamis (21/11). Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia diperingati pada 18-24 November 2019.

Hari menyebut, sekitar 80 persen penyakit tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh mikroba berupa bakteri. Sedangkan penyakit yang disebabkan oleh mikroba berupa virus, jamur, dan parasit tidak memerlukan antibiotik.

Pasien dan dokter harus mengetahui penyebab penyakit, sebelum memberikan antibiotik. "Virus, bakteri, parasit tidak bisa dibunuh oleh antibiotik, hanya bakteri saja," tutur Hari.

Menurut Hari, penyakit seperti batuk, pilek, flu, demam, dan radang tenggorokan disebabkan oleh virus sehingga tak memerlukan antibiotik. Begitu pula dengan penyakit diare, demam berdarah dengue, campak, cacar air, dan bisul yang dipicu oleh parasit dan virus. Pemberian antibiotik justru hanya akan membuat kuman resisten.

Penyakit yang disebabkan bakteri umumnya bersifat infeksi berat seperti pada paru-paru, tuberkulosis, usus buntu, radang otak, tipes, infeksi kandung kemih, dan sebagainya.

"Antibiotik cocok untuk infeksi berat. Selain [penyakit yang disebabkan] bakteri, tidak boleh [menggunakan] antibiotik," kata Hari.

Keberadaan bakteri harus diuji terlebih dahulu dengan pemeriksaan laboratorium. Antibiotik juga harus diberikan melalui resep dokter.

Salah menggunakan antibiotik dapat memicu terjadinya resistensi antibiotik yang kini menjadi ancaman kesehatan global, termasuk di Indonesia. Resistensi ini membuat bakteri penyebab penyakit tak dapat dimatikan dengan antibiotik. Kondisi ini membuat bakteri terus menggerogoti tubuh hingga dapat berujung kematian.

World Bank memprediksi, resistensi antibiotik dapat menyebabkan 10 juta kematian per tahun pada 2050 mendatang jika penggunaan antibiotik tidak dikontrol.

Lihat juga:
Mengenal Ciri-ciri Kulit Wajah akan Kontaminasi Polusi Udara
Solusi Anti-Gerah Warga Jepang, Gunakan Topi 'Lubang Angin'
Wisata di Hutan Pohon Purba Terbesar di Dunia dan Setinggi Pencakar Langit
PBB: Dalam Tiap 11 Detik, Ibu dan Bayi Baru Lahir Meninggal
Kontrol, Berikut Cara Akurat Bagi Ibu Jalani Kehamilan Berisiko Tinggi
Wasir alias Ambeien, Kenali Berikut Obat Wasir Herbal yang Bantu Kurangi Gejala


(CNN/ptj/asr)
Editor: Rianto

Subscribe to receive free email updates: