Peneliti: Racun Kalajengking Berpotensi Jadi Antibiotik Alami Hingga Harga Istimewa

Peneliti: Racun Kalajengking Berpotensi Jadi Antibiotik Alami dan Harga Istimewa
Ilustrasi. Dua senyawa dalam racun kalajengking berpotensi menjadi antibiotik alami yang dapat mengatasi infeksi usai prosedur operasi dan tuberkulosis. (Photo: Rich Haridy/newatlas)

Detiknewsocean.com | Sengatan kalajengking bisa menyakitkan, tetapi sebagian besar tidak berbahaya. Hanya beberapa spesies yang dapat menimbulkan sengatan fatal. Sengatan paling falta terjadi pada anak-anak dan lansia.

Gejala ringan termasuk nyeri dan bengkak di area sengatan. Gejala yang parah termasuk otot berkedut, berkeringat, dan mengeluarkan air liur. Sebagian besar sengatan tidak perlu ditangani. Kasus yang parah memerlukan antiracun.

Sengatan kalajengking dikenal juga dapat mengancam nyawa. Namun, siapa sangka jika racun kalajengking berpotensi menjadi antibiotik alami yang dapat mengatasi beberapa kondisi kesehatan.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan dua senyawa dalam racun dapat mengatasi infeksi Staph yang umum terjadi usai operasi dan resistensi obat tuberkulosis.

Mengutip Scientific American, para peneliti di National Autonomous University of Mexico memerah racun dari spesies Diplocentrus melici asal Meksiko.

Peneliti memisahkan komponen-komponen penyusun racun kalajengking dan menguji beberapa bakteri seperti Staphylococcus aereus, Escherichia coli, dan Mycrobacterium tubercolosis. Dua dari ketiga komponen tersebut ditemukan dapat membunuh mikroorganisme penyebab infeksi Staph dan tuberkulosis.

Kedua senyawa ini juga telah melewati proses pengujian pada tikus yang terinfeksi TBC dan sampel jaringan manusia yang terserang bakteri penyebab infeksi Staph.

Satu senyawa di antaranya lebih efektif membunuh bakteri penyebab infeksi Staph. Sementara satu lainnya bekerja lebih baik untuk mengatasi tuberkulosis, termasuk di antaranya yang resisten obat tanpa merusak lapisan paru-paru tikus.

Ahli biofisika Baylor College of Medicine, Christine Beeton, yang tidak terlibat dalam studi, mengapresiasi hasil penelitian tersebut. Beeton juga mengingatkan masih dibutuhkannya penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut.

"Tapi senyawa tersebut masih perlu diuji pada hewan yang lebih besar selain tikus," ujar Beeton.

Sebelumnya, sejumlah penelitian telah menemukan manfaat racun kalajengking untuk kesehatan manusia. Peptida yang ditemukan dalam racun diketahui dapat bersifat sebagai obat.

Mengutip situs Pharmaceutical, penelitian yang dipublikasikan dalam Chemical Communications ini menemukan, peptida yang berasal dari chlorotoxin dalam racun kalajengking asal Israel dapat melindungi otak dari zat-zat beracun.

Melansir dari Sains Kompas, Presiden Joko Widodo, pernah menyebut, racun Kalajengking memiliki nilai paling tinggi di dunia saat ini. Harganya sekitar Rp 145 miliar per liter, Senin (30/04/2018).

Terlepas dari berbagai komentar setelah Presiden Jokowi melontarkan informasi tersebut, Ramadhan Eka Putra, peneliti serangga dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, racun serangga memiliki potensi luar biasa dalam dunia medis.

Rama mengungkap, saat ini racun kalajengking digunakan untuk terapi kanker karena molekulnya yang kecil dapat mencapai bagian tubuh yang sulit dijangkau, seperti otak.

Mengapa mahal?

"Jumlahnya sangat sedikit dan satu kalajengking memiliki karakter racun yang berbeda, dihasilkan untuk membunuh atau karena ketakutan. Sulit sekali membuat racun yang sangat spesifik," kata Rama.

"Pengolahannya susah banget, untuk membuat racun yang sangat spesifik.... Pengolahan juga perlu proses dan hanya kurang dari 10 persen dari bagian venom (racun) yang diketahui fungsinya."

"Karena jumlahnya sedikit dan susah untuk dapat standardisasi, maka harganya mahal dan pembeli tak mau beli dari perusahaan yang tak jelas karena ini tekait dengan riset dan nyawa manusia," tambahnya.

Berdasarkan harga dari perusahaan Sigma Aldrich, salah satu perusahaan resmi yang menjualnya, harga racun kalajengking per 10 mg sekitar Rp 16 juta.

Terapi kanker dan potensi terobosan di dunia kedokteran

Jenis racun yang dihasilkan kalajengking adalah racun saraf seperti halnya yang dihasilkan ular kobra.

"Keunikannya bisa berkaitan dengan sel saraf. Saat racun masuk ke sistem saraf, akan masuk ke sistem saraf besar. Dalam beberapa kasus digunakan untuk terapi kanker karena bisa dengan cepat masuk ke sel saraf terutama di otak," ujarnya.

Rama mencontohkan salah satu kasus kanker otak yang dialami seorang bocah berusia dua tahun di Amerika. Dalam perawatannya, dokter melakukan terapi racun kalajengking agar bisa mencapai otak.

"Beberapa ilmuwan menggunakan sebagai terapi kanker yang baru karena sifatnya cepat dan ukuran (molekulnya) tak besar. (Ini memungkinkan) masuk dengan cepat ke bagian tubuh yang relatif susah dijangkau oleh obat yang berukuran lebih besar. Biasanya obat kanker itu molekulnya besar, jadi, pengobatan dengan racun kalajengking digunakan karena ukurannya lebih kecil yang susah ditembus oleh obat kanker konvensional." kata Rama. 

Rama, dosen pada Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, mengatakan, racun kalajengking saat ini dipakai sebagai cikal bakal obat masa depan.

"Di masa depan, ini menjadi salah satu sumber obat yang luar biasa. Potensinya luar biasa. Tak hanya racun kalajengking, bisa juga binatang lain. Pepida (racun) jenis ini ukurannya kecil dan efek sampingnya kecil. Umurnya pendek dan tak ada istilah kecanduan," ujar Rama. 

Lihat juga:

(CNN/asr/asr)
Editor: Rianto

Subscribe to receive free email updates: